Teppy and Her Other Sides

Eat well, live well, and be merry!

MOVIE REVIEW: Membuka Mata Soal Rohingya Lewat “Manta Ray” (2018)


Sebagai penikmat film kayak rakyat kebanyakan, sejujurnya gue paling sering nonton film yang mainstream atau yang komersial aja, yang secara storytelling tuh nggak njelimet-njelimet amat untuk dicerna. Tapi karena gue juga suka belajar pengetahuan baru soal budaya, hidup, isu sosial, manusia, masalah psikologis, dan berbagai hal lain lewat medium film, beberapa tahun terakhir gue juga nyoba untuk memperluas jenis film yang gue tonton, walaupun kadang otak ini suka nggak nyampe. Salah satunya dengan nonton film art.

Nonton film art buat gue jadi tantangan tersendiri karena gue harus melatih diri untuk menganalisa makna, simbol, suara, metafora, dan pesan-pesan implisit lain di balik filmnya. Mungkin gue emang punya tendensi kebanyakan mikir, tapi biasanya kalo gue sok-sok nikmatin gitu aja filmnya dan nggak nyoba interpretasi sambil nonton, seringnya ujung-ujungnya gue kagak ngerti ama maksud filmnya di akhir, hahaha. Kadang film-film art ini minim dialog, ritme penceritaannya lambat, dan hanya menyampaikan cerita lewat gambar dan ekspresi pemainnya, atau simbolisasi-simbolisasi lain. Gue nggak bilang semua film art gitu ya, karena yaaa… film art yang gue tonton juga baru segelintir. Tapi rata-rata abis gue nonton film jenis ini, gue pasti langsung Google macem-macem review orang untuk memastikan apakah gue menangkap filmnya dengan benar dan adakah hal-hal lain yang luput dari analisa gue. Beneran sih, gue harus bikin effort ekstra biar bisa mencerna cerita di film-film seperti ini dengan baik, salah satunya waktu gue nonton “Manta Ray” (Kraben Rahu), film asal Thailand ini. Tapi tenang pemirsa, selesai nonton ini gue ngerti kok maksud pembuat filmnya apa, tapi emang gue harus baca lebih banyak aja soal isu sosial dan krisis kemanusiaan yang diangkat di film ini. By the way, subtitle filmnya tersedia nggak cuma bahasa Inggris doang, tapi bahasa Indonesia juga ada, jadi makin accessible deh buat kalian.

Film ini adalah film debut sutradaranya, Phuttiphong Aroonpheng (yang nulis skripnya juga dia), dan didedikasikan untuk orang-orang Rohingya. Debut Phuttiphong bisa dibilang berhasil dan juga impactful karena dia sampe memenangkan Best Film di Orrizonti Horizon Prize – Venice Film Festival Awards 2018, festival di mana Phuttiphong world premiere film ini. FYI, filmnya juga udah muter-muter festival internasional lain juga di dunia.

Kalau kalian belum ngerti terlalu dalam dengan betapa kejamnya etnis minoritas di Myanmar ini diperlakukan, mungkin sebelum nonton Manta Ray bisa baca-baca dulu atau nonton beragam penjelasan singkat mengenai apa yang terjadi dengan etnis Rohingya. Gue pribadi tahu soal isu ini, tapi nggak ngikutin banget. Manta Ray membuka mata gue untuk cari tahu lebih banyak dan berempati lebih dalam. Hati gue mrintil sih nonton video di bawah ini, terus inget filmnya. Ada upaya ethnic cleansing alias etnis mereka mau diberantas dari muka bumi dengan berbagai cara yang sangat nggak manusiawi. Menurut hukum kependudukan Myanmar tahun 1982, kependudukan Rohingya dianggap nggak ada, bahkan identitas mereka sebagai etnis Rohingya aja ditolak. Mereka dilabel sebagai etnis Bengali dan dianggap sebagai imigran dari Bangladesh. Penolakan ini nggak cuma terjadi di tempat asalnya, tapi juga terjadi di negara Asia Tenggara lain kayak Malaysia dan Thailand di mana mereka nggak mau nerima orang-orang Rohingya untuk ditolong atau dikasih suaka.

Jadi, Manta Ray” ini film tentang apa?

Manta Ray” ini nyeritain seorang nelayan di desa pesisir pantai di Thailand, deket perbatasan Thailand dan Myanmar di mana ribuan pengungsi Rohingnya tenggelam di lautnya. Kalo nggak salah, inspirasi film ini adalah tindakan pemerintah Thailand yang nggak mau nerima pengungsi Rohingya di pesisir mereka, jadi kapal yang mau berlabuh didorong balik ke laut, yang maksa berenang ke pinggir laut ditangkep. Banyak banget cerita di mana orang-orang Rohingya ini terkatung-katung di laut selama berbulan-bulan tanpa sumber makanan dan air bersih dan ketika mendarat di pantai lain, banyak banget yang udah meninggal di kapalnya. GILA KAN?!

Balik ke cerita Manta Ray, satu hari, nelayan yang nggak dikasih tau namanya siapa ini nyelametin seorang laki-laki yang luka dan nggak sadarkan diri di hutan, tapi masih hidup. Kayaknya sih dia salah satu pengungsi Rohingya yang selamet. Laki-laki ini bisu, atau mungkin memutuskan untuk nggak mau ngomong sama sekali. Entahlah. Dia juga nggak bernama, jadi dia dinamain Thongchai sama si nelayan tadi, diambil dari nama penyanyi terkenal Thailand, Bird Thongchai McIntyre. Akhirnya setelah dirawat, Thongchai ini ya udah kayak temennya si nelayan ini aja, diajarin macem-macem basic life skills dan dicurhatin segala hal juga sama si nelayan, termasuk fakta bahwa istrinya si nelayan dulu ninggalin dia sama cowok lain. Gue lupa ngasih tau, si nelayan ini kayaknya punya side job yang rada fishy yang ada hubungannya sama hutan yang shot-nya akan kita lihat di beberapa bagian film ini, termasuk dari awal. Apakah pekerjaannya ada hubungannya juga sama pengungsi Rohingya? Kayaknya ada.

Setelah mereka semakin ikrib, suatu hari si nelayan ini ngilang entah ke mana dan naga-naganya nggak bakal balik lagi. Si nelayan ilang, ehhh, mantan bininya dateng dan ngendon di rumah itu. Nggak tau mau ke mana lagi katanya setelah hubungannya sama selingkuhannya runyam. Baik. Akhirnya ya serumah deh dia sama si Thongchai. Jadi nanti di film ini kita akan liat, kok si Thongcai yang tadinya nggak jelas identitasnya ini kok seolah menggantikan peran si nelayan, ya?

Lalu apa hubungan ceritanya sama Manta Ray?

Tentu saja sang sutradara nggak akan sembarangan pake judul Manta Ray kalo cerita filmnya nggak mengusung simbolisasi yang sama dengan hewan terkait. Paling nggak gue sih nangkepnya itu, ya. Jadi si nelayan ini tuh suka ngumpulin gemstones (permata) warna-warni dari hutan, dan dia juga suka ngajakin si Thongchai untuk nyari gemstones bareng juga, terus nanti dilemparin ke laut. Katanya Manta Ray ini suka sama gemstones warna-warni ini. It attracts them somehow. Si nelayan juga cerita karakterya si Manta Ray, kalo badai mereka ngapain, sembunyi di mana, dan kalau udah nggak badai mereka akan memunculkan diri di mana. Sotoy-sotoyan gue sih, cerita si nelayan soal si manta ray ini adalah metafora dari kehidupan kaum Rohingya ini. Dari beberapa artikel yang gue baca, sutradaranya juga emang suka sama manta ray karena karakter mereka. Cuma daripada gue kebanyakan cerita di sini, mending kalian nonton sendiri dan ikutan Q&A sama sutradaranya langsung. Film ini akan tayang secara daring (online) di program Kolektif Asia tanggal 20 Mei jam 19.00 WIB (105 menit) dan disusul dengan Q & A. Kalau mau ngikutin sesi pembahasan lebih lanjut soal Rohingya, kalian bisa ikutin sesinya tanggal 27 Mei bareng Lalita Hanwong dari Kasetsart University, Bangkok, jam 7 malem WIB juga. Info lebih lengkapnya silakan baca di bawah ini.

Jadi apa yang lo petik dari filmnya, Tep?

Kadang berita mungkin nggak cukup untuk membuat kita berempati, atau kadang kita yang nggak berani liat berita karena kontennya terlalu grafis dan pilu, kadang juga orang-orang pada ignorant aja soal masalah-masalah di dunia dan sibuk dengan dunianya sendiri (yang mana ya sah-saha aja). Tapi setelah nonton film ini dan baca lebih lanjut soal gimana etnis ini ditindas, gue beneran mau mingkem, nggak mau ngeluhin masalah hidup gue sama sekali karena beneran nggak ada apa-apanya sama ketakutan yang harus mereka hadapi TIAP HARI. Film ini subtle banget nunjukin sudut pandang pengungsi Rohingya yang kayaknya diwakilin sama karakter “Thongcai.” Kenapa kayaknya? Karena ya itu tadi, filmnya nggak terang-terangan bilang karakter Thongcai yang bisu ini siapa, cuma dengan segala informasi yang dikasih, kita bisa ngira-ngira dia datengnya dari mana. Thongcai (yang kalo bener adalah pengungsi Rohingya yang selamet) ngasih pertanyaan retorik ke dunia soal status etnis Rohingya sebagai seorang manusia:

Gimana kalo lo dilahirin ke dunia hanya sebagai kanvas kosong yang sebenernya juga nggak boleh ada di dunia ini? Lahir hanya untuk dihilangin keberadaannya sama pihak lain.

Lahir hanya untuk terus-terusan sembunyi, hidup tanpa identitas, tanpa “rumah” yang jelas, dilempar sana sini dari mana-mana seolah bukan makhluk hidup, dan nggak tau sampe kapan lo bisa bertahan hidup karena sewaktu-waktu lo bisa mati dengan alasan etnis lo perlu ditumpas. Bahkan hidup damai berdampingan aja nggak boleh.

Key takeaways? Be kind, be kind, be kind, help each other if you can and always be grateful if you live in a safe place with access to good living and you can live life freely with your own identity. For some people it’s an unrealistic dream.

Kesimpulannya…

Nonton “Manta Ray” itu ibarat kayak nonton puisi yang difilmin, atau kalo lo ke museum dan ngeliat lukisan yang rada abstrak dan kalo lo liat kasat mata kayaknya lo nggak akan ngerti-ngerti amat, tapi lo tau pelukisnya pasti nyampein atau ngerasain sesuatu ketika bikin karya seni ini. That’s how I felt. Ada bagian-bagian yang bikin gue mikir dua kali lebih keras karena nggak yakin gue paham, contohnya adegan bapak-bapak yang dililit lampu warna-warni di hutan, ada juga adegan-adegan pertemanan yang nggak banyak ngemeng tapi nilai pertemanannya nyampe ke hati, dengan visual yang indah pula. Ada juga yang bikin hati trenyuh. Sutradaranya juga banyak main di sound design supaya penonton juga bisa ikut nge-feel, tau emosi apa yang lagi disampein. Fun fact but not so fun fact, ada adegan yang suaranya makai gumaman (humming) kaum Rohingya langsung. It just felt…. eerie. I guess?

Yang jelas, mau artsy atau nggak, mau alurnya lamban dengan dialog yang minim, mau gue paham 100% atau nggak sama ceritanya, gue seneng karena gue berkesempatan untuk belajar sisi kehidupan manusia lain dari negara-negara di Asia, khususnya anggota Asia Tenggara. Kalau selama ini akses kita nonton film-film Eropa udah cukup lancar sehingga kita lebih familiar, sekarang waktunya kita terus mempertahankan, kalau perlu meningkatkan jumlah film Asia (Tenggara) yang bisa kita akses, karena bener deh, belajar lewat film itu jauh lebih menyenangkan daripada belajar lewat text book, dan mempelajari kehidupan masyarakat di suatu negara, termasuk negara tetangga, itu akan memperluas wawasan kita, bikin kita bisa mengerti posisi orang lain dan berempati lebih.

Cek Instagram Kolektif dan situs web mereka, https://kolektiffilm.id/kolektif-asia untuk informasi lebih lanjut akan perputaran film-film Asia lainnya di Kolektif Asia sampai Juni 2021! Selamat nonton, teman-teman! Pastiin tanya-tanya yang banyak ke sutradaranya biar belajar banyak juga 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on May 17, 2021 by in Uncategorized and tagged , , , , , .

Archives

Blog Stats

  • 4,913,665 hits

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 45,020 other followers

Follow Teppy and Her Other Sides on WordPress.com

Follow me on Twitter

%d bloggers like this: