Teppy and Her Other Sides

Eat well, live well, and be merry!

IMPRESIF TAPI DEPRESIF: Berkunjung ke Museum Perang Dunia II di Polandia


Hai semuanya! Selamat tahun baru 2021!

Di tahun ini gue bertekad untuk lebih rajin ngeblog lagi, makanya gue ngubek macem-macem folder yang ada di laptop supaya bisa ditulis jadi cerita. Salah satunya cerita kunjungan gue ke museum waktu jalan-jalan ke luar negeri.

Di tahun 2020 yang rasanya berat banget itu (dan masih belum tau juga apakah keadaan akan membaik di 2021), gue jadi sering berefleksi dalam banyak hal. Walaupun nggak habis pikir sama kejadian luar biasa yang kita hadepin sekarang, gue tetep bersyukur ini semua terjadi di tengah kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, bukan di masa semuanya masih serba manual. Harus diakui, semua generasi punya cobaannya masing-masing. Is this the worst year ever? Maybe in our lifetime. Tapi untuk orang yang lebih sepuh jauh daripada gue, mungkin beliau udah mengalami berbagai macam situasi yang lebih parah lagi. Misalnya hidup di zaman perang yang nggak cuma menempatkan nyawa dan kondisi mental dalam bahaya. Seanyep-anyepnya tahun ini buat kita semua, gue nggak kebayang kalo kita semua terjebak di zaman perang.

Seperti kutipan artikel TIME tanggal 5 Desember 2020 yang ditulis Stephanie Zacharek dengan judul “2020 Tested Us Beyond Measure. Where Do We Go From Here?”

There have been worse years in U.S. history, and certainly worse years in world history, but most of us alive today have seen nothing like this one. You would need to be over 100 to remember the devastation of World War I and the 1918 flu pandemic; roughly 90 to have a sense of the economic deprivation wrought by the Great Depression; and in your 80s to retain any memory of World War II and its horrors. The rest of us have had no training wheels for this–for the recurrence of natural disasters that confirm just how much we have betrayed nature; for an election contested on the basis of fantasy; for a virus that originated, possibly, with a bat only to upend the lives of virtually everyone on the planet and end the lives of roughly 1.5 million people around the world.”

Di penghujung 2019 lalu gue sempet berkunjung ke Museum Perang Dunia Kedua (Museum of the Second World War) di kota Gdansk, Polandia. Kalo kalian mau ke sini mending dateng dari pagi dan siapin waktu seharian biar puas keliling dan bisa baca dan nonton semua informasi dengan seksama. Hawanya sih depresif banget, ya, jadi mungkin hindari berkunjung kalo kondisi emosi atau mood lagi jelek-jeleknya. Harga tiket per orang sekitar 23 Zloty atau 88 ribu (kalo kurs belum berubah drastis). FYI, di Polandia sana emang pake Zloty, bukan Euro. Pake Euro untuk beli-beli sih bisa tapi dibalikinnya pake Zloty.

Ini bentuk museumnya dari luar.

Oke, sebelum gue cerita, gue akan majang banyak foto dan informasi dari museumnya. Kalo kalian nggak mau tau apapun soal museum ini karena dirasa kayak spoiler dan kunjungan kalian nanti jadi nggak seru, diskip aja, yah, post ini!

Begitu masuk sini kita akan dikasih audio guide. Gue lupa pilihan bahasanya ada apa aja, tapi yang jelas bahasa universal, Bahasa Inggris, tentu saja tersedia~ Buat pengingat, Perang Dunia II terjadi dari 1 September 1939 – 2 September 1945 alias ENAM TAHUN LAMANYA. Nggak kebayang kalo pandemi ini berjalan selama itu. T_______T

Menurut Wikipedia, Perang Dunia II adalah konflik paling mematikan sepanjang sejarah dunia dan memakan kira-kira 70-85 JUTA korban, yang mana lebih banyak warga sipil yang meninggal dibanding anggota militer. Kematian ini disebabkan oleh berbagai cara, antara lain genosida atau pembantaian besar-besaran terhadap kaum Yahudi Eropa (peristiwa yang kita kenal sebagai “The Holocaust”), dan kematian yang “direncanakan” dengan cara: sengaja bikin warga kelaparan, pembantaian, dan dikondisikan supaya warga kena penyakit. Surem banget sumpah kalo lo baca semua keterangan di dalam museum ini. Kok bisa orang tuh tega banget ke manusia lain yang nggak salah apa-apa.

Ini hall utama museumnya. Kita sih akan muter-muternya di sini aja, makanya memanjang ke belakang.

Bagian pertama yang gue liat adalah simulasi dampak perang ke sebuah keluarga berkecukupan dengan dua orang anak di Polandia. Simulasi ini nunjukin seberapa jahatnya perang berdampak ke kehidupan warga sipil yang nggak ngerti apa-apa. Kita bisa liat transisi kehidupan mereka lewat replika-replika ruangan yang dibuat. Ruangan-ruangan ini nunjukin perubahan kondisi mereka dari tahun ke tahun, dari yang rumahnya nyaman dan terang benderang sampe jadi surem banget.

Anak-anak ini anak-anak orang kaya, cuma pas perang semua sama rata jadi korban. Kurang gizi dan nggak keurus.
Ini anak-anak Polandia yang yatim piatu dan anak-anak para tahanan di sebuah sekolah keperawatan di desa Balanovo, Altai Krai.

Kita mulai dari sekolah dulu, ya. Ini adalah simulasi kondisi sekolah sebulan sebelum Perang Dunia kedua dimulai. Semuanya baik-baik aja, tapi perang dunia bikin anak-anak nggak bisa sekolah dan bahkan banyak yang nggak nyambung sekolah lagi setelah perangnya selesai. Gue sih nggak kebayang sekolah dalam suasana sehoror dan senggak pasti itu.

Nah, kalo ini simulasi rumah Andrejz sama Halinka dan orang tuanya waktu perang pertama dimulai sampe kemudian udah kena dampak perang. War is super super cruel and is so unnecessary.

Ini rumah mereka di hari Minggu, 3 September 1939, waktu Perang Dunia II baru berjalan dua hari.

Ini kondisi rumah mereka empat tahun kemudian, tepatnya Senin, 8 Maret 1943.

Yang terakhir, kondisi rumah mereka di hari Selasa, 8 Mei 1945, empat bulan sebelum Perang Dunia II benar-benar berakhir. Kalo liat rumah mereka di tahun 1939 dan bisa ngira-ngira kelas ekonomi mereka saat itu, enam tahun kemudian, kondisi mereka bener-bener beda.

*sigh*

Setelah ngeliat transisi rumah salah satu warga sipil yang bikin hati sedih tadi, gue lanjut ke ruangan-ruangan lain yang nyajiin sekian banyak informasi yang bikin hati makin ndredeg lagi. Mulai dari berkembangnya ideologi-ideologi ngehe di Eropa sana sampe perlakuan semena-mena ke banyak warga sipil. Udah gitu banyak video dan foto liputan pas masa Perang Dunia II itu pula. Jadi dari salah satu video reporter yang ditayangin di sana, si reporter cerita kalau dia ya tugasnya emang murni ngeliput Perang Dunia II aja. Dia nggak boleh ikut nolong sedikitpun walaupun korban-korban ini teriak-teriak kelaperan, berdarah-darah, atau minta ditolong di depan dia. Gila bisa nggak tenang gue seumur hidup pulang dari sana. T_T

By the way, ini beberapa bagian random dari museumnya, yah. Gue udah lupa persisnya ini bagian apa aja. Tapi yang jelas di museum ini kalian bisa nyerap informasi dari tulisan, replika, audio, dan audio visual.

Lahir dan Berkembangnya Totaliterisme

Totaliterisme itu tuh paham yang percaya kalau eksistensi individu itu nggak penting, dan sebaiknya semua manusia ngejalanin perannya supaya bisa mencapai kepentingan bersama. Nggak boleh ada perbedaan pendapat dan kehidupan umum apalagi pribadi lo dikontrol banget. Bener-bener otoriter abis. Otoriter dalam bentuk paling ekstrim.

Seperti yang bisa kalian baca di bawah, walau Perang Dunia I (1914-1918) udah kelar dan banyak negara Eropa yang menganut paham demokrasi, tapi nggak sampe 10 tahun kemudian, demokrasi ini diserang dan diganti sama rezim otoriter. Salah satu negara yang ngalamin hal ini adalah Polandia. Komunisme di Uni Soviet, fasisme di Italia, dan sosialisme (Nazi) di Jerman jadi ideologi yang berkuasa. Kesamaan dari ideologi-ideologi ini adalah semua pemimpinnya megang kontrol absolut, mereka nggak segan-segan pake teror dan propaganda agresif dalam ngatur masyarakatnya dan yang pasti punya ambisi untuk berkuasa BUANGET. Kalo di Asia, rekanan mereka adalah Jepang dengan imperialisme mereka.

Coba baca deh slide yang “Gardener of Human Happiness” di sini. Di Uni Soviet, sang maha sarap Joseph Stalin nerapin Great Terror dan ngebunuh ratusan ribu warga minoritas dari negara lain yang dianggap membahayakan. OUT OF NO REASON AND WITH FALSE ACCUSSATIONS!

Nanti di slideshow di bawah ini kalian bisa baca gimana Stalin menyebarkan atheisme dan bikin warganya kelaparan. Yang boleh makan sama yang dibiarin mati kelaparan dia yang nentuin, belum lagi kaum minoritas nggak bersalah yang dibunuh-bunuhin tadi. -_-

Muda dan mati sia-sia tanpa bikin salah apa-apa sama sekali.

Fasisme di Italia

Kita lalu beralih ke Italia dengan fasisme yang diterapkan si tokay Benito Mussolini. Fasisme ini awalnya mulai muncul di Perang Dunia I sebelum akhirnya makin berkembang dan menyebar ke negara-negara lain. Pahamnya adalah supernasionalisme yang otoriter, nggak mengakui adanya demokrasi liberal dan cuma boleh ada satu partai yang ngatur segala-galanya (gede banget deh ruang penyalahgunaannya). Pokoknya diktator abis. Di pola pikir fasis tuh musuh ada di mana-mana, terus manusia harus seragam semua.

Nazisme di Jerman

Selain fasisme, tentu saja kita nggak bisa lepas dari biang keror kelas kakap, the ultimate psycho yang juga nggak punya hati sama sekali kayak yang lain, Adolf Hitler, dengan Nazismenya. Kepanjangannya Nationalsozialismus dalam bahasa Jerman, atau National Socialism dalam bahasa Inggris.

Nazisme ini juga salah satu bentuk fasisme yang merendahkan demokrasi liberal dan sistem parlementer, terus bener-bener anti-semitisme (anti Yahudi), anti komunisme, dan percaya sama filosofi sosial politik eugenics. Eugenics tuh sebuah praktik di mana kita bisa dengan secara selektif mengawinkan manusia satu dengan yang lainnya dengan tujuan memperbaiki kualitas keturunannya, biar ngurangin penderitaan manusia turunan selanjutnya dengan ngeluarin penyakit turunan, disabilitas, masalah kejiwaan dan karakter-karakter yang nggak kita inginkan dari populasi manusia. Cuma si Hitler kebablasan dan malah nyalahgunain si eugenics ini (eugenics literally means “good creation”). Dia terobsesi membentuk rasisme ilmiah/biologis, di mana dia percaya cuma ras Arya yang paling bagus dan superior dari semua ras lain.

YEEEEEEEEEE.

Nih, gue kutip dari history.com, ya:

In Mein Kampf, Hitler declares non-Aryan races such as Jews and gypsies as inferior. He believed Germans should do everything possible, including genocide, to make sure their gene pool stayed pure. And in 1933, the Nazis created the Law for the Prevention of Hereditarily Diseased Offspring which resulted in thousands of forced sterilizations.

By 1940, Hitler’s master-race mania took a terrible turn as hundreds of thousands of Germans with mental or physical disabilities were euthanized by gas or lethal injection.

BAJINGAN.

Oke, di atas tadi kita udah belajar ideologi-ideologi bangsat yang makan korban jiwa (gue doain penguasa-penguasa ini sampe sekarang matinya nggak tenang, masih disiksa di alam baka sampe sekarang dan seterusnya!), setelah ini gue akan share beberapa foto-foto kondisi Polandia sebelum dan sesudah perang dan potret kehidupan semasa Perang Dunia II di sana.

Yang di bawah ini gue pikir kan simulasi apaan, yah, kok bagus gitu bangunan percontohannya. Taunya tujuannya buat nunjukin bedanya kondisi Polandia sebelum dan sesudah perang. Sedih banget, deh.

Ini sebelum…

Lalu setelah perang jadi gini…

KEHIDUPAN SEMASA PERANG DUNIA II BERJALAN

Selama masa perang, kehidupan di sana senaas foto-foto yang akan kalian liat di bawah. Sediiih banget liatnya. Tentu saja ini semua nggak mewakili betapa mengerikannya suasana aslinya, tapi ngunjungin museum ini cukup bikin gue ikut down.

By the way, ada satu foto yang rada graphic di sini, jadi kalo kalian nggak tahan atau takut liat, diskip aja ya bagian ini, atau berhenti baca aja. Graphicnya tuh bukan ada foto jenazah nggak utuh atau apa, ya. Cuma ini foto dua kakak beradik perempuan, yang satu masih hidup dan lagi nangis karena yang satunya lagi meninggal di hadapan dia (foto terakhir dari slide show di bawah. Bisa kalian hindari untuk liat). Sesuatu yang sering kita liat di adegan film, tapi ini nyata. SEDIIIH BANGET. T___________T Kalo nggak mau liat foto ini dari slide show di bawah, langsung lanjut baca yang lain aja, ya.

Terus foto yang di bawah ini dibaca baik-baik, deh. Bikin naik darah. I seriously question the existence of God coming out of this museum. Gimana bisa sosok yang kita sebut Maha Kuasa bisa ngebiarin ini semua terjadi, menimpa banyak orang yang nggak bersalah. Kalo ini semua adalah kelakuan setan, kan Yang Maha Kuasa tetep Tuhan? Hikmah apa sih yang mau didapet dari ngebiarin ini semua terjadi?

I know the thought of this superior being gives us hope to certain extent, but how can you explain this atrocious cruelty? The idea that life is just what it is with no actual savior seems to be more understandable. Maybe hope and disaster both come from humankind, and life is just plain shit sometimes, not in the control of imaginary being we call “God.” At least this is what I personally believe. Hidup tanpa ada ekspektasi dan konsep bahwa “penyelamat” itu beneran ada kayaknya lebih bisa gue terima. Tapi keyakinan memang urusan masing-masing, jadi jangan mikir gue lagi ngajak-ngajak kalian untuk mikir yang sama loh, yaaa.

ANYWAAAY.

Mari lanjut. Sok dibaca kalo nggak tensi lo naik.

“Don’t let compassion into your hearts.” -Adolf Hitler, 22 August 1939

Dapetin makanan, baju, bahan bakar, akses ke budaya, akses belajar dan bepergian susah banget, cenderung nggak boleh.

Di bawah ini kita bisa liat kalo di masa perang dilakukan food rationing atau pembatasan makanan. Makanya lo liat ada kupon-kupon makanan di salah satu foto. Karena ada pembatasan makanan, bumbu-bumbu masakan juga jadi banyak banget yang susah didapet dan rasanya jadi terlupakan (sediiih), udah gitu harganya di pasar gelap juga tinggi banget, akhirnya orang-orang pada kreatif bikin resep baru dengan bahan yang lebih murah.


Beberapa Memorabilia Zaman Perang

Di bagian tengah museum ada etalase kaca untuk mamerin beberapa memorabilia masa perang. Beberapa dari memorabilia itu bisa kita liat di bawah ini…

Ini peralatan rambut zaman dulu

Terus ada gaun pernikahan yang terbuat dari… parasut militer. Saking susahnya dapet kain sutra, jadinya pake parasut..

Terus ada sapu tangan yang ditulisin pesen… Baca deh pesennya sama keterangannya. T_______T

Terus ada etalase yang nunjukin gambar-gambar perang dari sudut pandang anak kecil. Lagi-lagi, sedih…


The Holocaust

Ngomongin Perang Dunia II, nggak mungkin nggak ngomongin “The Holocaust.” The Holocaust tuh genosida yang dilakukan kepada kaum Yahudi Eropa oleh Nazi. Ada lebih dari enam juta orang Yahudi yang dibantai, yang mana ini tuh 2/3 dari populasi semua kaum Yahudi di Eropa. GILA BANGET NGGAK, SIH. Cara bunuhnya sistematis, pake metode pogrom (kerusuhan + kekerasan), penembakan massal, dan juga pemusnahan lewat pekerjaan di kamp-kamp konsentrasi. Selama gue di Polandia sayangnya gue nggak sempet berkunjung ke Auschwitz, tapi mungkin ada baiknya. Pasti lebih depresif lagi di sana. Kayaknya gue harus bener-bener siap mental kalo mau liat.

Kondisi kebersihan di kamp udah pasti nggak bagus sama sekali. Di sana nggak disediakan kakus, wastafel, dan tempat tidur yang cukup. Kamp-kampnya bakalan kerendem lumpur tiap abis ujan, dan setelahnya kutu dan hama bakal berkembang biak di dalam barak. Kran juga cuma sedikit dan airnya cuma air dingin doang, jadi selain kondisi untuk mandi nggak layak, tahanan-tahanan ini juga harus berantem dengan satu sama lain untuk mandi dan cuci-cuci. 😦 Lo kebayang nggak kalo pandemi Covid-19 terjadi di era itu? Apa nggak langsung mati mereka semua? 😦

Ini contoh kakusnya. Begini doang, udah gitu berebutan pula makenya. 😦 Foto-foto diambil dari sini.

Barak kayu di Auschwitz Birkenau
Barak bata di Auschitwz II. Setiap partisinya diisi empat orang 😦

Nah, kalo yang ini tuh foto koper-koper orang Yahudi Eropa yang dideportasi ke kamp konsentrasi, kebanyakan dari mereka disuruh masuk ke kamar gas untuk dibunuh, ada juga yang dibiarin kelaperan sampe mati. 😦

Ini foto para korban…

Pastor di bawah ini namanya Maximilian Mary Kolbe. Dia jadi martir di kamp Auschwitz, merelakan dirinya untuk dikurung dan mati pelan-pelan di hunger bunker, nggak dikasih makan dan minum. Setelah dua minggu dan napi-napi yang lain udah pada meninggal, Kolbe masih tetep idup. Karena bunkernya mau dikosongin, akhirnya penjaga bunker nyuntikin carbolic acid ke badan dia. Carbolic acid itu bahan kimia beracun yang di dalemnya mengandung tar dan biasanya dipake untuk bikin plastik, nilon, atau untuk bunuh kuman. 😦

Gue doain waktu pastor ini lahir kembali ke dunia, dia dikasih kehidupan yang bahagia banget.

Patah hati banget gue baca ini.

Di masa itu buruh-buruh non-Jerman dipakein emblem di baju mereka. “OST” (Ostarbeiter) untuk pekerja dari Timur/Uni Soviet, dan “P” untuk pekerja dari Polandia. Saking rasis dan merendahkannya perlakuan ini, salah satu pekerja “P” nyatet suatu kejadian yang dia alamin di buku hariannya.

‘Diperlakukan seperti anjing. Seorang “P” masuk ke sebuah toko dengan sebuah kartu rasionalisasi untuk apel, dan penjaga tokonya mengejek: “Kamu itu ‘P’ dan kamu mau apel?” Bagaimana bisa seorang “P” seolah lebih buruk dari mereka? Ini sungguh menyebalkan sekali. Semuanya sangat menyakitkan ketika mereka memperlakukan kami seperti ini, dan semuanya harus ditanggung sendiri. Sungguh sangat berat.’

-Buku Harian dari Halina Fedorowicz, Konigsberg, 12 Agustus 1944-

Foto-foto di atas ini adalah satu-satunya dokumentasi yang tersisa dari pembunuhan dan kekejaman di kamp Auschwitz-Birkenau, di mana di gambar ini mayat-mayat lagi dibakar di area dekat kamar gas. Orang-orang yang lagi berdiri di sisi kanan itu lagi pada antri untuk dibunuh. Foto ini diambil diem-diem sama seorang Yahudi Yunani yang bertugas untuk Sonderkommando news. Foto negatifnya diselundupin dan dibawa keluar ketika ada gerakan penolakan dari orang-orang di kamp terhadap penyiksaan ini.

Emang nggak ada satu hal baik pun yang bisa didapet dari perang kekuasaan. Masih banyak lagi efek mengerikannya. Selain kejahatan pembunuhan, juga banyak kasus kekerasan seksual.

*diterjemahkan dari gambar di atas*

Perang tanpa belas kasihan – Di Polandia, Jerman ngetes berbagai metode kriminal untuk perang. Abis itu metode kriminalnya diaplikasiin juga ke negara-negara lain. Sianjing. Akibatnya ribuan warga sipil terbunuh karena bom, di antaranya Rotterdam (makanya di kota ini banyak bangunan “baru” ketimbang kota-kita lain di Belanda, karena Rotterdam waktu abis dibom hampir abis, jadi kotanya dibangun lagi dari tahun 1950an-1970an), London, Belgrade (ibukota Serbia), dan Stalingrad (di Rusia). Jutaan orang mati kelaparan di Leningrad (Rusia) waktu Jerman ngepung, termasuk puluhan ribu orang Yahudi yang dikurung di daerah kumuh, juga ikut mati. Tentara Jepang juga ngebunuh tahanan perang dan warga sipil. Gitu aja terus bales-balesan antara Sekutu (the Allies) sama Axis, tanpa mandang nyawa dan hajat kehidupan orang banyak sama sekali.

Kekerasan Seksual di Masa Perang Dunia II

Ini adalah lukisan penculikan Kim Soon Duk, satu dari sekian perempuan Asia yang dipaksa untuk “melayani” tentara-tentara Jepang. Perempuan-perempuan ini ditangkep dengan cara ditipu, dibilangnya akan ada kerjaan di pabrik dan bayarannya bagus. Kalo nggak ditipu dengan cara begitu, biasanya mereka malah langsung diculik. Mereka dipekerjakan di rumah bordil dan biasa disebut dengan panggilan “comfort women.” Setelah perang kelar, korban-korban ini takut sama perlakuan dan stigma masyarakat kalau mereka tau apa yang menimpa mereka, jadinya mereka diem aja. *nangis* Baru beberapa dekade belakangan mereka mulai berani bicara dan nyeritain kisah pahit mereka. Lagi-lagi gue doain semoga di kehidupan selanjutnya, mereka dikasih kebahagiaan lahir batin.

Ini juga balas dendam yang salah banget dan nggak pada tempatnya. Gue tau perlakuan tentara Jerman nggak banget dan ninggalin luka dan duka yang dalem banget, tapi bukan berarti mereka bisa merkosa perempuan-perempuan Jermannya.

Saking parahnya kekerasan seksual ini, bahkan perempuan HARUS BAWA SURAT RESMI SUPAYA NGGAK DIPERKOSA. Apa yang harusnya jadi hak asasi manusia malah jadi begini. Baca deh keterangan gambar di bawah.

Seperti yang gue bilang, yang paling dirugiin dari perang tuh ya pasti warga sipil, pihak-pihak nggak bersalah. Warga Jerman yang nggak ngerti apa-apa juga banyak yang dibunuh, begitu juga dengan warga Hiroshima dan Nagasaki yang dibom sama Amerika, walaupun Jepang juga di pihak Jerman yang bangsat luar biasa. Riset mengenai energi atom tuh udah berjalan di beberapa negara, bahkan sebelum perang, salah satunya di Amerika dengan Manhattan Project mereka. Di tahun 1942 President Roosevelt menyetujui pengembangan senjata nuklir dengan kode nama Manhattan Project ini. Pengembangannya dilakukan di Los Alamos, New Mexico. Ada banyak banget ilmuwan top yang terlibat, bahkan pemenang Nobel. Udah gitu mereka juga kerja sama dengan orang-orang intelijennya Soviet.

Nah, karena Jepang nolak untuk nyerah tanpa syarat di 31 Juli 1945, Amerika ngeluncurinlah bom atom pertama mereka, “Little Boy” ke Hiroshima tanggal 6 Agustus 1945. Terus tiga hari kemudian, 9 Agustus 1945, mereka ngebom Nagasaki dengan bom atom kedua mereka. Jumlah korban tentu jangan ditanya, hampir seluruh kotanya kesapu bersih sama bom atom ini.

Yang digantung di atas itu replika bomnya. Katanya itu ukuran asli bom atomnya. Terus foto yang satu lagi nunjukin kondisi Hiroshima dan Nagasaki setelah dibom.

Keadaan Setelah Perang Dunia II Berakhir

Setelah perang kelar, Polandia, khususnya Warsawa tentu saja hancur lebur, termasuk juga banyak kota dan desa di Polandia. Kira-kira ada 162,190 gedung pemukiman dan 353,876 peternakan yang ancur, dan lebih dari lima juta orang Polandia meninggal. Polandia yang tadinya udah merdeka harus ngebangun lagi negaranya dari tahun 1945 sampe tahun-tahun berikutnya, tapi bahkan bekas-bekas perangnya masih keliatan sampe hari ini. Foto-foto di bawah ini diambil oleh Henry N. Cobb yang dateng dari Amerika Serikat tahun 1947 bareng sekelompok arsitek untuk mendokumentasikan kemajuan rekonstruksi urban Polandia setelah perang. 80% dari gedung-gedung di Warsawa dirubuhin sama Jerman dan banyak banget artefak dan peninggalan budaya yang juga mereka ancurin.

BANGKEEEEEEEEE.

Keluarga ini lagi nyari anggota keluarga mereka yang lain 😦

Tau nggak apa yang paling menyedihkan dari ini semua selain negara-negara yang kena dampak perang harus ngebangun ulang semuanya? Selain banyak keluarga harus nyari keluarga mereka yang ilang dan bangun kehidupan mereka kembali? ADALAH BAHWA BANYAAAK BANGET PELAKU KEJAHATAN SELAMA PERANG DUNIA NGGAK KETANGKEP DAN MALAH BISA IDUP TENANG. LENGGANG KANGKUNG, PEMIRSA!

Walau banyak pelaku kriminal perang dari Jerman dan Jepang yang disidang, banyak juga yang nggak pernah dihukum dan menjalani kehidupannya dalam persembunyian. Dilindungi orang-orang yang punya kuasa, Vatikan, beberapa negara Amerika Selatan, atau rekan-rekan senegara orang-orang kriminal ini yang nggak mau ngurusin masa lalu mereka lagi. Pelaku kriminal dari Soviet kagak pernah ada yang disidang. TOKAY, KAN?!

You think that’s all? WAIT, THERE’S MORE!

Kalo nggak karena mau nulis artikel ini, gue mungkin nggak akan baca lebih dalem si dokter Josef Mengele YANG IDUPNYA TENANG-TENANG AJA DAN KAGAK PERNAH DITINDAK ini ngapain aja ke anak-anak di kamp konsentrasi Auschwitz. TAUNYA BANGSAT BANGET. Pantes julukan doi “Angel of Death” atau “Malaikat Kematian.” Mari kita liat wujud si bangsat ini terlebih dahulu. Kenapa gue ngomongnya kasar banget? Lo tunggu sampe gue bikin daftar kejahatan doi abis ini.

Well hello, asshole.

Jadi si dokter bajingan ini punya gelar doktor di bidang antropologi dan obat-obatan. Di Auschwitz dia adalah salah satu orang yang punya kuasa untuk nyiksa para tahanan dengan eksperimen kejamnya, termasuk nentuin siapa aja yang harus masuk kamar gas. Yang lebih sinting dari segala kesintingannya lagi, si Josef ini punya ketertarikan lebih sama: anak kembar, orang yang matanya dua warna, orang kerdil, dan orang yang cacat fisik. Anak-anak yang mau dia jadiin bahan penelitian ini biasanya si Josef kasih perlakuan ekstra dibanding orang-orang di kamp. Makanan lebih enak dan nggak dieksekusi di kamar gas. Tapi kalau waktu eksperimennya udah tiba, dia nggak segan-segan: suntik mati, mukul, nembak, dan ngelakuin metode-metode mematikan lainnya. Ini anak-anak kecil yang nggak bisa bela diri, loh! UDAH GILA NI ORANG. Apakah Josef rasis? Itu sih sudah tentu. Segala eksperimennya sama anak-anak kecil ini juga untuk membuktikan kalau ras Arya itu emang ras yang paling superior. Josef ini emang psikopat, soalnya dia nggak punya rasa empati dan simpati sama sekali, apalagi rasa penyesalan sama apa yang dia perbuat (anaknya, Rolf Mengele, mengakui kalau bapaknya nggak nunjuk tanda-tanda penyesalan sama sekali).

Beberapa tindak kejahatan yang dia lakukan ke anak-anak kembar ini adalah: amputasi anggota tubuh, menginfeksi badan anak-anak ini dengan tifus atau penyakit lainnya, dan mentransfusi darah satu sama lain. Terus perlakuan dia sama nyawa orang ya gitu aja. Pernah satu malem Josef ngerasa 14 pasang anak kembar yang dia teliti udah nggak ada gunanya lagi, jadi dia suntik jantung anak-anak ini pake kloroform, dan dalam satu malem 14 pasang anak kembar ini meninggal semua.

Gimana obsesi dengan yang matanya beda warna (heterokromatik) tadi? Si Josef laknat ini bisa dong bikin percobaan NGUBAH WARNA MATA dengan nyuntikin bahan kimia ke mata subyek hidup. Atau nggak dia bisa bunuh orang yang heterokromatik ini supaya bola matanya bisa dikirim ke Berlin untuk diteliti. Masih banyak banget kejahatan yang dia lakukan. Dia juga pernah ngejait sepasang anak kembar buat bikin kembar siam! WHYYY? WHY WOULD SOMEONE DO THAT TO ANOTHER LIVING BEING?! Semua yang dia perbuat super-super traumatis, ada bekas korban yang speak up di sini.

Dikutip dari spokesman.com, ini adalah kesaksian Cyrla Gewertz yang punya tato “A24840” di tangan kirinya sebagai pengingat kejadian pahit yang udah dia lewatin dulu.

Gambar dari sini.

β€œ(Mengele) told me to strip and step inside a large vat with extremely hot water,” said Gewertz during an interview in her Sao Paulo apartment. β€œI said the water was too hot and he said if I didn’t do what he ordered, he would kill me. After that I had to step into a vat with freezing water.”

Gewertz bilang, dia pernah ngeliat Mengele ngebunuh bayi cewek yang baru lahir dengan NGELEMPAR si bayi dari atap barak kamp. GILAAAAAAK. Bener-bener wujud nyata setan di bumi si Josef ini. Gue doain dia cuma berakhir jadi kerak di neraka dan disiksa balik dengan semua hal yang dia lakukan ke orang lain semasa hidupnya. Kalo neraka itu nggak ada, gue doain dia terlahir kembali dan semua siksaaan itu berbalik ke dia.

Anak-anak yang selamat dari kamp Auschwitz. Foto dari sini.

Lanjut ke penjahat-penjahat Perang Dunia II lainnya…

BACALAH!

Dua orang di atas ini, Heinz Reinefarth sama Shiro Ishii ini pada masanya mereka di peperangan ini tuh bertanggung jawab atas pembunuhan puluhan ribu orang. Si Heinz Reinefarth setelah perang malah diangkat jadi orang penting/petinggi di daerah tempat tinggalnya. MALAH JADI WALIKOTA. WOY! UDAH GILA LU SEMUA. Dia ngelewatin proses de-Nazifikasi dengan lancar tanpa halangan, sehingga bisa menjalani hidup dengan lenggang kangkung. Sementara si Shiro Ishii yang dulu ngelakuin eksperimen pseudo-medical (yang seperti si dokter Josef bajingan tadi, pasti memakan banyak nyawa tak berdosa), malah imun dan dilindungi Amerika karena dia barter dengan temuan tes senjata biologis dan kimia Jepang. EMANG NGEHE INI SEMUA!

Yah jadi begitulah kira-kira kunjungan museum penuh informasi traumatis ini, teman-teman. Kalo buat gue aja udah horor banget, gue nggak kebayang kerusakan dan trauma lahir batin yang dialami sama para penyintas Perang Dunia II ini (dan perang-perang lainnya). It would be a lifetime of excruciating therapy. Jadi apakah gue bisa bilang kalau tahun 2020 itu tahun terburuk? Mungkin dalam masa hidup gue. Tapi di luar pandemi yang mengerikan ini, gue rasa kita nggak bisa ngebandingin virus ini dengan kekejaman yang terjadi di masa itu. Bener-bener nggak sebanding. Having those atrocities going for SIX BLOODY YEARS is really something out of this world, in a bad bad way.

Semoga di tahun 2021 ini kita semua dijauhkan dari hal-hal nggak baik yang bikin trauma dan sedih, dan jangan sampai ada perang apapun lagi di dunia ini. Amin.

Sampai postingan selanjutnya!

Westerplatte monument or Monument to the Defenders of the Coast. Monumen ini dibangun untuk memperingati para pembela Polandia dari Depot Transit Militer di pertarungan Westerplatte di titik ini. Pertarungan ini adalah salah satu pertarungan pertama antara Jerman dan Polandia, menandai pendudukan Jerman di Polandia dan awal mula Perang Dunia II terjadi.

This one hits so hard. Foto diambil dari sini.

 

6 comments on “IMPRESIF TAPI DEPRESIF: Berkunjung ke Museum Perang Dunia II di Polandia

  1. risrisda
    January 1, 2021

    Halo, kak Tep! Seneng banget deh, salah satu blogger favorit muncul lagi hehehe.

    Stay safe and sane in 2021 ya, kak! Aamiin. πŸ€—πŸ˜‡

    • Teppy
      January 1, 2021

      Nyawww makasih banyak loh, Risdaaa! Doa yg sama buat kamu, ya! Yg terbaik di tahun ini. Amiiin. Happy new year 😘

  2. gita
    January 1, 2021

    Thank you for writing this!! ❀️

    • Teppy
      January 1, 2021

      Sama-sama, Gitaaa! Happy new year 😘

  3. Bella
    January 1, 2021

    Hi Kak Teppy,
    Senang bisa baca tulisan kakak lagi 😊

    Thanks for telling us about your experience when you visited the museum Kak Teppy! It must’ve been hard for you to recall the memories dan pasti bikin kebayang-bayang. Baca tulisan ini jadi keinget sama film Schindler’s List dan The Pianist, sangat depresif juga filmnya :”
    WORLD WAR sangat sangat kejam! Bener juga statement Kak Teppy, ada ya manusia sekejam itu 😭 soal Mengele juga, aku pernah lihat documentary-nya Eva Mozes Kor, beliau dan saudara kembarnya survivor dari eksperimen Mengele. Mereka berhasil survive tapi saudari kembarnya Miriam meninggal di tahun 1993 (cmiiw) karna komplikasi gegara eksperimen Mengele. You should’ve watch that sih kak, tapi teteup sebelum itu siapkan mental :”)

    Anyway, Happy New Year kak! Stay safe and healthy yaa.
    Semoga di 2021 bumi bisa cepat pulih dari biologic thread a.k.a pandemik ini 😊

    • Teppy
      January 1, 2021

      Hai Bella! Terima kasih banyak sudah baca πŸ™‚ Sedih banget ya emang, ya ampuuun T_T aku udah tandain si dokumenter Eva (bless her soul and her twin’s), akan aku tonton segera. Happy new year juga ya, Bella! Semoga kamu sehat-sehat dan aman-aman selalu juga. I hope things get better for all of us!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on January 1, 2021 by in Euro Trip and tagged , , , , , , , .

Archives

Blog Stats

  • 4,884,620 hits

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 45,016 other followers

Follow Teppy and Her Other Sides on WordPress.com

Follow me on Twitter

<span>%d</span> bloggers like this: