Teppy and Her Other Sides

Eat well, live well, and be merry!

TEPPY-O-METER: Warkop DKI Reborn 3


Warkop DKI adalah legenda. Terlepas komedinya sealiran sama selera komedi gue atau nggak, butuh suatu kualitas tertentu yang membuat grup ini bisa bertahan sebegitu lama dalam berbagai format, bahkan sampai tiga anggota terdahulunya berpulang, film-film Warkop masih rajin diputar di TV. FYI, dulu mereka berempat, tapi Nanu meninggal tahun 1983 karena sakit liver, setelah itu mereka meneruskan bertiga. Lalu Kasino meninggal di tahun 1997 dan kemudian Dono di tahun 2001. Nah, gue yang kelahiran tahun ’87 kebagiannya yang di TV aja, tapi dulu kan juga ada sinetronnya tuh di Indosiar. Dari situ lah gue jadi sekalian tau ada Karina Soewandi dan Roweina yang cantik-cantik bener buset.

sinetron warkop DKI

Sinetron yang w maksud. Gue sih dulu paling suka jingle sinetronnya:

“Nggak usah susye susye… Warung kopi… Kita nggak pernah suseh…” HAHAHA. Enak beatnya.’

Menurut gue, Warkop sebaiknya berhenti sampai di situ aja. Tetap melegenda dengan konten-konten orisinilnya. Kalau mau dilestarikan, menurut gue sih dengan merestorasi film-film lamanya, bikin nobar, bikin podcast kaset-kaset lawakan lamanya, nayangin ulang sinetronnya, apa kek yang sifatnya daur ulang. Bikin buku, bikin film biopicnya… karena kalo materinya masih materi orisinil, ya tastenya akan tetep sama. Tetep WARKOP. Begitu didaur ulang dengan aktor-aktor baru, mau semirip apa pun… tetep beda nggak, sih? Paling sebel sih karena ceritanya dibikin absurd. Itu yang bikin gue pengen rolling eyes berkali-kali.

Waktu nonton Warkop Reborn 1 yang Jangkrik Boss, sampe menuju ke tengah tuh gue masih bisa ngikutin alur dengan okelah. Bahkan ketika ada tukang pos item banget yang kulitnya jelas-jelas diarengin jadi kayak Dakocan. Begitu masuk adegan yang pake efek CGI di mana sepasang kakek dan nenek mukanya dicopot terus dituker, terus bisa dipasang lagi (kayak efek face swap di filter-filter itu)… CRY, SIK. CRYYY. Why the hell did they do this?! Terus yang ada iklan Khong Guan di display besar, walaupun apa banget, selama nggak di-CGI-in yah… ya udahlah w masih bisa percaya. Walaupun tetep kurang mashook. Makanya sejak adegan-adegan aneh itu gue udah nggak tertarik lagi nonton yang kedua.

PROMO-IG

Lalu yang ketiga ini sih gue juga nggak berharap apa-apa sama sekali, karena kembali ke prinsip dasar, menurut gue bentuk pelestarian Warkop yang terbaik adalah justru dengan nggak bikin versi rebornnya. Malah mendingan remake film lamanya, deh! Kan bisa diadaptasi tuh nggak usah plek ketiplek. Pilih beberapa yang alur ceritanya paling menarik terus dibuat ulang malah lebih masuk akal.

THUMB FULL

Di film ketiga ini gimana ceritanya? Yah… gitu, dah. Absurdnya nggak perlu pake CGI dengan cerita yang lari ke mana-mana. Loncat sana loncat sini. Garing tipis-tipis. Yang masih bisa bikin ketawa-ketawa mendengus dikit tuh bagian parodi film-film Indonesia yang sebenernya becandaan receh anak Twitter banget (Warkop asli tuh receh nggak, sih? Seinget gue nggak), terus joke Arab kebalik. Ini juga ya bolehlah… walau tetep kagak masuk di akal. Akhir kata, bukan maksud hati kita nggak pengen tertawa. Kita mah pengen banget tertawa sebelum tertawa itu dilarang, tapi tolong beri kami alasan yang valid untuk tertawa. Or even to pay respect to the original Warkop after 46 years of existence. Gue tetep pengen liat Aliando, Adipati Dolken, Randy, Khiva Iskak, Ganindra Bimo dapet peran-peran yang lebih baik dan untuk cerita-cerita yang jauh lebih asik. Kasian kalo talenta sebagus mereka dikasih cerita dan peran yang begini. Karakter Ganindra Bimo sebagai Amir Muka (ceritanya produser India gitu) di film ini juga mendingan dikasih ke orang India beneran, sih. Walau Bimo mainnya bagus, dia juga bisa dikasih peran lebih bagus. Auk, ah. Gue jadi ngatur cerita orang kan, nih.

Ya udah begitu aja tanggapan gue setelah nonton Warkop DKI Reborn 3 yang absurd dan alurnya ke mana-mana, tapi masih lebih mending dikit dari remake Benyamin kemarin (gue nonton antara pengen nangis sama pengen marah, kenapa Babe Benyamin yang legendaris ceritanya dibeginiin). Kalo soal sinematografi di film Warkop Reborn terbaru ini jangan khawatir, bagus, kok. Cuma satu kata untuk adegan Lagi Syantiek di metromini sama adegan nyanyi-nyanyi di angkot Maroko: APEEEEEEEEEEEEEE.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on September 14, 2019 by in Movie, Review, Teppy-O-Meter.

Archives

Blog Stats

  • 4,581,122 hits

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 36,259 other followers

Follow Teppy and Her Other Sides on WordPress.com

Follow me on Twitter

%d bloggers like this: