Teppy and Her Other Sides

Eat well, live well, and be merry!

TRAVEL: Brunswick & Abbotsford, Melbourne


Bulan Desember 2016 kemarin gue sempet cuti 10 hari ke Australia dan menghabiskan tujuh hari di Melbourne, sekalian nonton konser Coldplay. Tapi entar aja bahas konsernya, sekarang bahas jalan-jalannya aja dulu. Gue nggak tau karena ini summer atau karena kotanya memang memungkinkan gue untuk ke banyak tempat dalam satu hari (kayaknya sih dua-duanya), tapi liburan kemarin rasanya panjaaang banget. Mungkin karena summer di sana berarti sunsetnya baru malem, jam 8 malem aja masih suka terang, jadi hari rasanya panjang dan bawaannya pengen pindah-pindah tempat mulu.

Anyhoo, di salah satu hari di trip gue kemarin, gue dan temen-temen gue, Rara dan Pito (yang lagi kuliah S2 di sana dan tinggal dari Juli 2015) sempet jalan ke daerah suburb di sana. Hari itu yang kebagian kami kunjungi adalah Brunswick untuk ngopi pagi dan Abbotsford dari sore ke malem.

Brunswick

Brunswick ini letaknya sekitar 4 kilo dari sebelah utara CBD-nya (Central Business District) Melbourne. Daerahnya terkenal dengan budaya bohemian lokalnya dan komunitas seninya yang kuat, terus banyak imigran dari Italia dan Yunani di sini. Maap-maap kalo kurang akurat ya, ini hasil  baca di Wikipedia doang, nih. Hehe. Kalo kata Pito sih ini juga salah satu suburb hipster, cuma tipe hipster yang lo temuin di sini beda sama hipster di Fitzroy katanya. Gue belum bisa ngebedain karena ya cuma bentaran doang kan kemaren main ke Brunswicknya. Anyway, gini nih kira-kira sekilas daerahnya…

dscf5598

 

Nah, pagi itu gue, Rara, Pito yang kedinginan seperti biasa pengen mengawali hari pake kopi plus makan yang anget-anget soalnya anginnya lagi bangke banget dinginnya~~~ Lalu dibawalah kami sama Pito ke satu kafe kesukaannya di Brunswick yang namanya Acustico. Kalau ke Acustico akan jalan masuk ke semacam daerah perumahan ini…

dscf5604

dscf5603

Terus kafenya yang ini…

Tampak luar 

Begitu masuk ke dalem, gue sih suka banget yah, soalnya suasananya homey tapi “nyentrik” juga gitu. Enak buat kerja lama-lama, lega pun tempatnya. Kata Pito kalo lo perhatiin, furniture di dalam kafenya beda-beda, kan. Itu karena mereka ngambil barang second hand, jadi emang nggak dikonsepin yang satu tema gitu, tapi justru jadi vintage looking gitu, yah. Suka!

dscf5615

dscf5610

dscf5608

dscf5633

dscf5606

*Zoom in ke mas-mas berkacamata di sudut kanan sofa sana. Cakep bener aslinya, kayak Chris Martin versi geek, yawla* #GatelLintasBenua

Untuk kopinya sendiri pun enaaak! Harap dicatat, kafe ini spesialisasinya bukan di latte art, yah. Jadi kopinya yah disajiin biasa aja, tapi enak. Pito juga sempet sarapan sup sayur apaaa gitu, itu pun enak. Terus mungkin karena di suburb dan bukan tempat hipster/mainstream, harganya cenderung lebih terjangkau ketimbang ngopi di tengah kota. *YA EYALAAA* Kalau kalian mau cek-cek menunya, silakan klik di sini.

Gemes pun karena ada Pacman di atas. 

Belum abis nih beta motoin ni tempat… mari masuk ke ruangan kedua…

dscf5630

dscf5629

dscf5628

Kira-kira begitulah pagi singkat di Brunswick. Siang ke sorenya kami jalan ke Fitzroy sama Collingwood, daerah hipster yang (kayaknya paling) terkenal di sana. Cuma gue bakal jadiin itu postingan sendiri, jadi kita lanjut ke dinner, yah! Untuk dinnernya kami juga main jauhan lagi ke suburb lain. Emang nggak salah deh jalan ama Pito, jadi serasa warga lokal, hihihi. Restoran yang kami tuju ini ada di suburb bernama Abbotsford. Abbotsford ini letaknya sekitar 2 kilometer dari sisi timur Melbourne (lagi-lagi beta nyontek Wikipedia). Restorannya namanya Lentil As Anything yang ada di dalem sebuah area bernama Abbotsford Convent.

Menurut gue, dua tempat ini sama-sama unik. Jadi Abbotsford Convent ini kalo mau diterjemahin mentah-mentah, artinya biara/susteran Abbotsford. Di dalemnya ya tentu saja ada gereja untuk pemberkatan pernikahan (gue nggak tau apakah masih dipake rutin untuk ibadah atau nggak). Yang gue baru tau, ternyata di area ini tuh ada taman, restoran, bar, galeri, dan area terbuka untuk hangout atau sekadar duduk ngobrol gitu. Kalau gue baca sih katanya tempat ini bertujuan supaya orang tetep punya akses dengan tempat historikal kayak si biara ini, caranya ya dengan menjadikannya lebih hip dan jadi tempat di mana orang bisa melakukan interaksi sosial, bikin sekaligus menikmati karya seni, dan secara tidak langsung juga jadi merawat dan menjaga keberadaan tempat bersejarah ini. Cerdas juga sih, yah, kalau dipikir-pikir. 

 

Oh, ya. Si restoran Lentil As Anything tempat kami makan malem ini sebenarnya adalah sebuah organisasi komunitas non-profit. Makanannya vegetarian ala makanan Sri Lanka gitu, terus sistemnya agak semi self-service. Jadi kita tetep mesen di kasir dan nanti makanan dianter, cuma cutlery dan gelas minum ngambil sendiri, terus kalau udah kelar makan juga balikin sendiri ke area piring kotor. Kalau ada sisa makanan juga bisa langsung dibuang sendiri ke bak sampah yang tersedia. Yang menyenangkannya, kita bisa bayar sesuai yang kita mau/kita rasa pantas untuk makanannya. Nyenengin karena secara nggak langsung kita juga ngasih donasi… dan kalau lagi bokek, mayan juga makan di sini, hahaha. Restoran ini didirikan oleh Shanaka Fernando (Sri-Lankan born Australian) di tahun 2000 dengan uangnya sendiri (cabang pertama di St Kilda) atas concernnya sama social justice. Shanaka bener-bener terinspirasi setelah dia travel ke sana ke mari ke negara-negara dunia ketiga dan masuk ke komunitas-komunitas kecil (komunitas suku – salah satunya dia sempet berkunjung ke Desa Suku Baduy). Nama Lentil As Anything ini diambil dari nama band rock Australia, Mental As Anything.

dscf5842

dscf5841

dscf5844

Walaupun makanannya vegetarian dan bentuknya kagak indah-indah amat, ye, tapi rasanya enak, kok. Porsinya ngenyangin, rasa OK (kalo gue emang nggak suka sayur, jadi kalau rasanya udah “sayur banget” nggak akan gue makan). Biasanya di sini ada today’s special menu sama dessert gitu, by the way.

Yang seru yang bisa gue inget dari restoran ini? Selain makanannya enak dan ramah di dompet, dan mungkin karena konsepnya yang pay as you like, katanya sih orang-orang yang homeless suka makan di sini. Selain orang homeless… yang hippie juga banyak. Gue ampe nggak bisa bedain ini homeless, hipster, apa hippie. Lebih ngaco lagi, kayaknya beberapa yang dateng tuh agak “high” deh, hahaha. Abisan kita diajak ngobrol sama satu opa-opa, cuma ngomongnya “ngablu” berat. Isi omongannya bisa dimengerti, cuma ade apeee ngana bahas ginian sama stranger. Nyeret pula ngomongnya, hahaha. 

Kami juga sempet diajak ngobrol sama waiter yang ngeladenin. Mas-mas Brazil bermata biru yang ternyata bisa bahasa Indonesia karena lama tinggal di Bali. Senengnya karena mungkin suburb yah, jadi seneng aja gitu cuma kami doang yang orang Indonesia di sana, jadi pas Mas Brazil excited ngajak ngomong bahasa Indonesia berasa spesial gituh, nggak ada saingan di meja lain. *APOSEEE* Coba kalau makan di city, populasi orang kita banyak  banget, serasa di Jakarta. 😆

Kelar makan kenyang, kami kemudian lanjut jalan ke deket-deket situ (biar secepatnya kabur dari opa-opa giting :lol:). Berhubung cuaca lagi dingin amatan, jadi nggak bisa goler-goler di taman di convent itu kan, jadi kami jalan ke satu farm untuk anak-anak yang ada di sisi kanan jalan kalau keluar dari convent, namanya Collingwood Children’s Farm. Asik juga jalan-jalan di situ sambil denger musik dan ngelamun #tetep. Tempatnya asri, binatang-binatang yang dipelihara di situ juga gemes, hahaha.

 

dscf5902

dscf5918

dscf5954dscf5941

dscf5943
dscf5959

dscf5969

Dombanya sadar kamera #gemes

Jadi kira-kira gitu deh jalan-jalan satu hariannya 😀 Hari yang menyenangkan walau seharian itu summer dusta alias katanya summer kok dingiiin! But we loved our day anyway 😀 I’ll come back with more posts of Aussie (and other places, ya!) Write you soon!

dscf5947

(Acting like a) school girl 

dscf5977

Across the bus stop

 

 

Advertisements

6 comments on “TRAVEL: Brunswick & Abbotsford, Melbourne

  1. Ira
    January 14, 2017

    Gatel lintas benua….. *selepet teppy pake tali kutang

  2. Dita
    January 15, 2017

    seruuu ya main ke suburb, pengen baliiik 😦
    kemaren total cuma 3 hari di Melb jadi jalan2nya sekitaran kota doank dan bener banget berasa di Jkt huft

  3. gegemartina
    January 15, 2017

    yeay, tulisan tentang jalan-jalaaann lagi hihihi

  4. teronggemuk
    January 16, 2017

    ADUH TEP GIMANA INI GUE DATENG NONTON BIEBER NGGAK YAK?? Aussie bagus ya. :’)

    • Teppy
      January 16, 2017

      DATENGIN AJA NEEEEEEENG. Hidup cuma satu kali #apeu : )))) Aussie bagus kok, worth to visit banget 😀

  5. Pingback: TEPPY’S COFFEE SHOP LIST: 10 Tempat Ngopi Pilihan di Melbourne | Teppy and Her Other Sides

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on January 14, 2017 by in Adventure, Australia, Cafe, Eatery, Jalan-Jalan, Lifestyle, Rekomendasi, Resto, Review, Travel, Traveling.

Archives

Blog Stats

  • 2,356,526 hits

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 7,029 other followers

Follow Teppy and Her Other Sides on WordPress.com

Follow me on Twitter

Instagram

little wanderer. 
#travel #candid #Thailand #photography #travelphotography Kedai kecilnya Sagaleh. 
#teppyscoffeeshoplist #coffeeshopoftheworld #coffeeshop #coffee #coffeetime #koffietijd #coffeeshopcorners seafood coma. 🐟🦀🦐🦑 #thailand #travel #foodporn man in the mirror. 😺 Tiya ❤🐶 🦄's day out. #Thailand #travel
%d bloggers like this: