Teppy and Her Other Sides

Eat well, live well, and be merry!

Kalau Melihat ke Belakang


Jalan-jalan sendirian kayak yang sedang gue lakukan sekarang bikin waktu ngelamun jadi jauh lebih banyak. Kalau udah gini gue bawaannya jadi reflektif. Selain soal traveling dan kebiasaan jalan-jalan di bulan ulang tahun yang baru aja gue bahas di postingan sebelum ini, gue juga jadi nginget-nginget semua kejadian di hidup gue selama 5-9 tahun terakhir. Well, terutama 5 tahun belakangan, sih.

FYI, gue sempet stress karena buku gue yang kedua belum jadi-jadi (ya salah lau sendiri, mbak :lol:). Harusnya udah bisa kelar tahun 2015 lalu, lalu liatlah apa yang terjadi sekarang, BELON JUGA NGANA KELARIN ITU BUKU, TEPSOOOY.

Buku kedua gue nanti rencananya akan berbicara soal pengalaman dan keresahan hidup gue di usia 20an, khususnya 20an pertengahan sampe akhir. Istilahnya: quarter life crisis. Entah kebetulan, entah excuse, entah apa lah, rasanya sekarang gue berada di titik yang cukup tepat untuk (beneran) nyelesein buku ini karena dari lima tahun lalu sampai empat bulan pertama di tahun ini sampai akhirnya gue menginjak usia 29 tahun, ada banyaaak banget kejadian yang bisa gue tulis dan gue bagi dengan kalian, terutama yang di tahun ini.

Well, entah bisa gue share dengan gamblang atau nggak, yang jelas empat bulan pertama di tahun ini bisa gue kasih judul: SHITS GET TOO REAL. Bahwa istilah “Manusia bisa berencana, Tuhan yang menentukan” itu bener banget adanya, bahkan kalau bisa gue tambahin, “Manusia kadang nggak bikin rencana, tau-tau dikasih cobaan nggak kira-kira.” Cobaan yang pengen bikin gue ngibarin bendera putih ke langit, ngarep diliat sama Yang di Atas saking kejadiannya kok bertubi-tubi amat dan levelnya berat semua: menguras emosi, energi, dan pikiran. Bagus gue nggak gila. Hal-hal seperti: merasakan dan mengurus orang tua sakit berat untuk pertama kalinya (dan kita semua tahu ini bukan perkara satu kali diurus lalu kelar, tapi akan jadi tugas anak seterusnya sampai orang tua Insya Allah sembuh), lagi-lagi tidak beruntung di dunia percintaan ampe hati pegel banget rasanya, daaan di luar itu semua kepala harus tetep bisa dingin biar bisa nyelesein kerjaan yang loadnya banyak dan KPInya serius, biar tetep punya pendapatan dan bisa jalan-jalan dan mengurus berbagai hal domestik keluarga maupun pribadi lainnya. Semua tidak bisa gue ceritakan dengan detil tentu saja, tapi tahun ini gue bener-bener merasa diangkat, dibanting, diangkat lagi, dibanting lagi, dan sekarang gue lagi berusaha mewaraskan diri dari segala kekusutan ini.

Tentu saja dibalik segala kesusahan kita harus selalu bersyukur, toh? Iya, pasti. Gue bersyukur banget banget banget biarpun udah mau gila, Tuhan nggak pernah lupa “ngejagain” gue dengan ngirim “guardian angels” yang super baik di mana-mana, yaitu temen-temen gue. I’m not over-glorifying them, but if there’s one thing I can really take pride from in my life, it is that my lifelong treasure is my friends. My gold-hearted friends. Being the oldest kid with separated parents that rely on you heavily will make you strong and independent somehow… yet so lonely.

Don’t get me wrong, my siblings are awesome, we’re a team, especially my little sister. We’re like two “ibu-ibu” in the family, the ones who do all the thinking and the administrative and domestic shit. But still, because I am the oldest, at least before anything my family will ask for solutions to me FIRST before I jump into collective discussions, and on the other hand I have so much in my own life I have to take care of (because who else is taking care of me other than well, myself?). I can’t help but feeling so alone, lonely, what have you, because I basically have no place to go. This year so far, and by far, is my hardest, the most tiring I could possibly have. I’m anxious just to think about it again.

Dan di sinilah temen-temen gue masuk.

Salah.

Mereka selalu ada dari awal. Baik ketika gue panik atau bahkan muncul tanpa ditanya. Postingan ini nggak akan kelar kalau semuanya gue ceritain satu-satu, tapi kalau ada satu hal yang gue percaya dan bikin gue tenang, orang baik itu di mana-mana, dan yang lebih bikin pengen nangis (bahkan ini gue ngetiknya berkaca-kaca) karena orang-orang baik ini ada di sekitar gue, dan di dalam hidup gue pula dan dengan caranya masing-masing seolah menenangkan gue kalau gue nggak sendirian. Mungkin sekarang cerita gue ini terdengar samar-samar, tapi semoga gue bisa cerita lebih jauh di buku kedua nanti, then you’ll understand why I’m telling you that my friends are my absolute treasure.Β Semoga abis liburan ini gue bisa tancap gas nyelesein bukunya.

Kembali ke judul di atas, dipikir-pikir, hidup gue lumayan berwarna juga, baik dari pengalaman yang baik, seru, dan nyenengin, sampe pengalaman yang buruk, sepet, asem, lebih-lebih “asu.” πŸ˜†

Selama beberapa hari jalan kaki di Taipei, gue suka sambil dengerin “I Live”-nya One Republic yang gue quote di buku pertama gue, dan sambil denger, kadang gue jadi mikir juga. Just like the song meaning, I’ve been through so much. I have really lived. Nggak cuma soal jalan-jalan, tapi juga pekerjaan, pertemanan, dan percintaan. Kalau nengok ke belakang, ada rasa seneng karena udah liat berbagai macam hal, udah ngerasain ini itu, udah ngelewatin yang pahit manis, udah kenal berbagai tipe orang dengan cerita hidupnya masing-masing, baik yang bikin kagum maupun yang bikin geleng-geleng kepala. Kadang suka mikir: “How did that happen? How did I get through that?!”

Ngerasa seneng juga karena di usia yang lebih matang seperti sekarang, gue udah semakin firm sama apa yang gue mau di hidup gue, dan dengan itu gue nggak ngasih ruang untuk kompromi dengan orang lain yang bisa mengorbankan hal-hal yang gue mau. Di usia yang semakin matang juga, banyak hal yang semakin tidak relevan dan membuat gue jadi berpikir dan bersikap lebih praktis. Nggak punya waktu untuk menye-menye karena hidup gue udah kebanyakan urusan yang harus diberesin, jadi yang sekiranya cuma buang waktu langsung diskip. Gue juga sadar, di usia sekarang gue jadi jauh lebih tegas dan galak. Dulu gue anaknya super nggak enakan, apa-apa diiyain, tapi lama-lama kok capek di gue doang jadinya. Gue masih ada bibit-bibit ini sih, tapi nggak separah dulu.Β 

Soal percintaan? Setelah gue rasa-rasa, sebenernya gue ini sama aja perasanya kayak gue yang dulu. Jadi ya pada dasarnya gue ini terlalu perasa, terlalu sayang, dan terlalu-terlalu lainnya kalau soal percintaan, walaupun logika tetep jalan. Yang membedakan gue yang sekarang dan gue yang dulu adalah sekarang kalau patah hati bounce backnya lebih cepet, gengsi lebih tinggi, kadar ketegaran lebih kuat, logika selalu jalan, dan lain-lain. Kalo perasaan galau-sedih-kangen-sayang atau apapun sih tetep, tapi tidak semua hal harus kita tunjukkin dan kita rasa-rasain terus, toh? Secukupnya aja, dan tetep selalu pake logika. Easier said than done, of course, tapi gue sadar banget gue nggak selemah dulu, hahaha. TAPI! Untuuung dulu lemah. Untuuung dulu bego. Untuuung dulu terlalu sayang. Kalau nggak lewatin masa-masa zonk ini, mana mungkin sekarang bisa lebih tough. Tough dalam memalsukan perasaan sebenarnya, hahaha.

Membawa diri di pergaulan di usia sekarang juga jauh lebih enak. Ya ini menurut gue aja sih. Biasanya Β karena makin tua, makin banyak pengalaman dan pengetahuan sehingga kita jadi lebih pede, baik waktu kenalan dan ngobrol dengan orang baru, atau ketika harus memutuskan sesuatu sendiri. Dulu waktu umur 20an awal, walaupun gue tau gue nggak kaku dan bisa ngobrol leluasa dengan siapa aja, di otak gue, gue selalu panik kalau harus dateng ke event networking: “Abis ini gue harus ngomong apalagi, ya?” atau… “Kalau nanti dia ngomongin hal yang gue nggak ngerti, gue harus bales apa? Bakal keliatan bego nggak ya gue?”

At this age, I’ve stopped worrying about it. Dibawa pede aja, toh kita juga tau kita nggak “kosong-kosong” banget kan. Masih ada “isi”nya. Kalau pun nanti kita nggak ngerti pembahasan si lawan bicara, ya tinggal ngaku aja kalau kita nggak ngerti, atau bersilat lidah yang smooth sampe kemudian lo ngerti cerita lawan bicara dan lo nggak harus nanya.

Satu hal yang masih bertahan dari dulu sampai sekarang setelah gue nengok ke belakang adalah sifat overthinking gue. Ini bukan cuma penyakit, tapi kayaknya udah jadi takdir hidup gue sebagai seorang Teppy. Bukan Teppy namanya kalo nggak overthinking. Di usia yang sekarang, gue berusaha lebih “eling,” berusaha ngingetin diri sendiri untuk nggak terlalu banyak mikir, berusaha cari distraksi sesering mungkin, dan berusaha cerita sama temen-temen setiap kali gue mulai anxious alias gelisah. Kalau dulu? Semuanyaaaa gue pikirin, ampe gila sendiri. πŸ˜†

Oh well, dipikir-pikir banyak juga ya yang udah dilewatin sekian tahun ke belakang. Proses pendewasaan yang super panjang, tapi seneng udah bisa ngelewatinnya. Semoga seterusnya gue bisa jauh lebih dewasa, cool-calm-collected-but-still-crazy-and-cheerful, dan semoga semakin kuat. Amin.

Demikian postingan panjang kali lebar yang dipersembahkan oleh nggak bisa tidur gara-gara ngopi jam 9 malem ini (lagi-lagi salah sendiri). Buat temen-temen yang mau share tentang quarter life crisisnya, segalau kegalauan di fase usia 20an, silakan share di bagian komen, ya. Sekalian gue riset gitu. Pasti banyak deh yang bisa kita relate bareng, atau malah banyak yang beda?Β Let me know! πŸ˜€

Hope that you fall in love, and it hurts so bad
The only way you can know is give it all you have
And I hope that you don’t suffer but take the pain
Hope when the moment comes, you’ll say…

I, I did it all
I, I did it all
I owned every second that this world could give
I saw so many places, the things that I did
With every broken bone, I swear I lived

-“I Lived,” One Republic

Advertisements

15 comments on “Kalau Melihat ke Belakang

  1. Marini Saragih
    May 3, 2016

    Kemaren akik iseng nanya ke temen: “Dulu, pas menjelang umur 30, suka takut-takut cemas ga jelas gitu ga? And he said: “Absolutely yes.” πŸ˜‚πŸ˜‚

    The last phase of 20’s emang lumayan “eek” ya ternyata. Haha. I didn’t want to say “I know what you feel” because I knew we all have different feelings. Tapi setelah dibaca-baca kok mirip. πŸ˜‚πŸ˜… My dad died when I was a kiddo, so I have to put my family first before anyone, including me. Well, frankly, I got such a shitty feeling everytime I have to knock my ego down. “I want this” selalu kalah dengan “I have them”. Berkali-kali feel small gegara ga bisa ngelakuin apa yang bisa dilakuin orang laen. Dan berhubung “kedramaan” ini sudah mendarah-daging, everything feels worse than it should be. Ya namanya juga perasaan ya.

    Seolah-olah kong-kali-kong dengan drama keluarga, kerjaan kok berdrama juga. Hahaha. When your job “knows” you have a possibility to be a kickass person (pede parah πŸ˜…), it surely will be the first one who kicks your ass no matter how thin your ass. Ada ameeennn??!!! πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

    Dan apakah segala macam yang tak menyenangkan tadi didukung oleh kisah percintaan yang menyenangkan? TENTU TIDAK!!! πŸ˜…πŸ˜…

    But above all Tep, I remember what I’ve prayed for. I’ve always prayed that I want to be significant -wherever I am, I want to be a blessing (even if it’s just a little one) not just be blessed. And by sending all these burdens, I think He agrees with I’ve prayed for. 😊 Rasanya emang pengen nyerah, tapi begitu mau nyerah, inget-inget lagi sama apa yang udah dilewatin. And yes, God trully blessed me by sent some really good friends in my life. Jumlahnya memang ga banyak, bisa diitung pake jari, tapi they’re the best & sweetest.

    Ini kenapa jadi surhat begini mak???!!! Maafkan lah yes 😌. So be tough ya Tep, be kickass.

    Btw, aku ngeliat kamu di Echelon awal April kemaren. Mau nyapa tapi pas lagi meeting, begitu aku beres kamu sudah menghilang. 😭😭
    Semoga lain kali bisa maen bareng. 😊

    • Teppy
      May 3, 2016

      you are and will always be a significant person, nengski! i guess we all have our own pathways that shaped us to where and who we are now. semoga kita selalu kuat, makin dewasa, makin cerdas, dan kalau udah nggak kuat banget bisa dikasih waktu untuk “nyender” bentar, entah sama siapa dan bagaimana caranya. PELUK! Hayuk atuh, email gue aja kalau mau ketemuan, ya πŸ˜€ Glad to know you, neng! Cheers

  2. Lynn
    May 3, 2016

    I finally know why I can relate to your personal post: We both are the oldest in the family. So rightafter the parents, it was us taking responsibility. Waiting for your next book, kak Tep! Buku ini terima guests’ posts ndak? Huahahaha

    • Teppy
      May 3, 2016

      terima kasih banyak, Lynn sayang! *pelukan + toss* hahaha

      semoga bukuku cepet selesai… sayangnya bukunya belum terima guest posts, but will consider for the next or even for this blog πŸ˜€ kalau ada yang mau dishare untuk referensi ceritaku di buku nanti, silakan di email aja, ya πŸ˜€ cheers!

  3. gegekrisopras
    May 3, 2016

    Sebagai sesama Arian (aries girl maksudnya) slash eldest sister in family slash ortunya sakit slash LDR family, (sok nyama-nyamain LOL), I really feel you kak. Emang deh cobaan beruntun itu selalu ada TAPI gua juga ngerasain kebaikan dari orang-orang di sekitar gue yang bahkan, inner circle aja pun bukan. But that’s what makes us wiser/tougher indeed, isnt it.

    Dan buat event networking, HIH i believe pengalaman does matter, kok lo bisa ngerasain apa yang gua rasain =)) khawatir berlebihan.

    • Teppy
      May 3, 2016

      *peluk* *toss* stay tough, fellow arian!

  4. dinlas
    May 3, 2016

    ka teppy aku jadi mau share quarter life crisis nya aku nih tapi kepanjangan kalo di komen hahahaha aku mau email aja di draft dlu hihiiiih *niat* insya allah

  5. kekeliztia
    May 4, 2016

    Wuaahh kak Teep dengan sukarela mau jadi wadah share quarter life crisis, ku juga mau ahh share sekalian curhat ngahahahaa, di email aja boleh yaa kak Tep :))

    Oiya happy be-so-lated birthday kak Teppy, sehat selalu kak Tep & keluarganya dan bahagia terus menerus ya kaaak:)))
    Baca setiap blog post kak Tep, liat setiap foto di ig dan follow Twitternya juga keliatan seruuu dan berwarna bangeeet ngeliatnya aja bisa bikin seneng ❀ *udah jd secret admirer dr sejak lama :p* beruntung bisa kenal dan ketemu langsung walaupun kita jarang ngobrol ya kak hehe
    Pingin banget bisa ngetrip bareng atau sekedar ngopi ngobrol bareng kak Tep, semoga bisa suatu saat yaa kak Teppy!:) cepet selesai novelnya yaaa kak! Hahaa

  6. gadisrakus
    May 4, 2016

    Sama yah, bedanya i’m not just eldest sister but the only kiddo. Terus dilema. Ortu sakit tapi LDR-an ama suami nun jauh di benua sana, mau buru2 nyusul tapi nyokap ga bisa ditinggal. Dulu belum nikah on late 30s galau, sekarang udah nikah masih aja galau. Galaunya berbeda dan lebih complicated. Well, thats life..

    • Teppy
      May 4, 2016

      huhuhu… PELUK PELUK PELUUUUUK! semoga semuanya jadi lebih baik dan bearable ya, neng! *we got this!*

  7. tiraniandhercoffee
    May 4, 2016

    Peluk kak Teppy….yg selama ini ku kira hidupnya enak enak aja..ternyata betul yaa semua punya sisi suka dukanya dalam hidup..ayo buku keduanya beresin kak biar bisa PO hehehe

  8. ari.dj
    May 5, 2016

    ademm mampir ke blog saya jg yah https://sudutjalan81.wordpress.com/

  9. Ratri
    May 10, 2016

    Kak Teppyyy!!! I’m in that kind of crisis tooo!! Dijorokin pertanyaan kapan nikah dimana temen-temen udah berumah tangga, beban anak sulung perempuan yang kalo kata nyokap harus bisa jadi independent plus bisa ngurus rumah tangga tapi di sisi lain pengen puas-puasin nikmatin masa muda juga. Mau nerusin sekolah i don’t even have an idea yet, seolah itu jadi wajib (padahal kan ilmu bisa didapet dari mana aja tanpa harus ngejer gelar, toh?). Akibatnya jadi overthinking banget, apalagi kalo berhubungan sama networking dan orang-orangnya punya pengaruh cukup besar. There are lots of fear inside, but i’m trying my best (and keep trying!) to beat all the fear. Hwaiting!
    *kasih virtual hugs*

  10. GG.
    May 17, 2016

    quarter life crisis emang bikin rempong, ya.
    dan bentar lagi gw bakal kinky thirty, ketika baca ini gw makin merasa gw makin butuh jalan alone buat self reflection.
    good luck to us, Tep.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on May 3, 2016 by in Thoughts, Uncategorized and tagged , , , , , .

Archives

Blog Stats

  • 2,226,667 hits

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 6,762 other followers

Follow Teppy and Her Other Sides on WordPress.com

Follow me on Twitter

Instagram

Love this creamy #coffee from @duacoffe! Kenapa #kopikedua? Katanya #karenayangpertamatetapkamu 
Okesip. (Ini beneran #hashtag-nya mereka ya, bukan beta lg ngegombal πŸ˜‚πŸ€£) #momenberdua #duacoffee #duacipete #Coffee needs improvement (my #latte was too watery for my liking), but the place is nice. Love the murals. #teppyscoffeeshoplist #coffeeshop #coffeeshopcorners #coffeeshopoftheworld #coffeetime #koffietijd #cikarang duo tembem πŸ˜ŒπŸ‘―#bff no trust issue with this one. β˜•
#teppyscoffeeshoplist #coffeeshop #coffeeshopcorner #coffeetime #coffeeshopoftheworld #coffee πŸŒ³πŸƒπŸŒ³πŸƒ main-main. #bw #bw_photography
%d bloggers like this: