Because We’re Designed to Move Forward


Picture taken from here

Sekitar tiga minggu lalu gue ngobrol sama bos gue di meja kerja gue. Gue nahan nangis banget waktu itu, dan cuma bisa senyum dengan mata berkaca-kaca sambil dia menjelaskan kenapa dia memutuskan untuk resign. Gue kagum sekali sama bos gue yang pinter, asik, dan baik hati ini, dan seneng banget bisa langsung berada di bawah arahannya dua tahun terakhir. Bos gue ini selalu gue banggakan, karena emang orangnya sangat sangat menyenangkan… dan itu tadi, pinter. Makanya begitu denger dia resign, sedihnya gue lebih sedih dari patah hati.

Bos gue adalah seorang laki-laki Inggris yang bahkan belum berusia 40 tahun tapi sudah menduduki jabatan Presdir selama tiga tahun di Indonesia. Posisi yang dia duduki di negara-negara tempat dia bekerja sebelumnya pun juga udah di top level management. Keren, ya? Yang bikin gue salut, dia mulai semuanya dari awal banget. Dia selalu berkecimpung di dunia logistik, dan waktu muda di Inggris dulu, dia berangkat dari level warehouseman. Jadi semua pekerjaan kasar di gudang dia udah ngerti, maka makin kagumlah gue melihat dia bisa merangkak ke jabatan tertinggi di perusahaan, belasan tahun kemudian.

Meeting sama bos gue ini selalu penuh ketawa-ketiwi, karena sifatnya yang konyol. Waktu gue lagi serius bisa-bisanya dia mengeluarkan statement-statement bodoh yang bikin konsentrasi gue buyar. Dalam sebuah sesi meeting di mobil dari Cilegon-Jakarta, setelah habis ngobrolin kerjaan, kita jadi ngobrol kehidupan keluarga, tentang betapa dia sayang sekali sama keluarganya (he’s such a family man) terutama sama anak perempuan satu-satunya, tentang gimana ayah, ibu, kakak dan adiknya, hobinya, semuanya deh… Dan dia juga tahu tentang cerita keluarga dan percintaan gue, bahkan suka cerita gimana dia bisa pacaran sama istrinya dulu, tentunya disertai dengan statement-statement konyol :lol:. Dan memang karakternya begitu. And he’s such a kind person. Bos gue ini adalah tipe orang yang bisa menawarkan elo untuk main Angry Birds di iPadnya karena khawatir lo bosen setengah mati karena perjalanan Cilegon-Jakarta yang makan waktu sekitar tiga jam. Bos gue ini waktu Valentine lalu ngasih semua pegawai perempuan di kantor gue bunga mawar, dan selalu inget untuk kasih kado ulang tahun direct reportsnya, termasuk gue yang dapet jam tangan oranye waktu ultah lalu πŸ˜€ Gue kagum dengan caranya memimpin, sehingga lo nggak merasa ada gap antara level elo dan level dia di kantor, tapi justru berasa kayak temen. Kita juga suka ngobrol soal rencana liburan masing-masing dan gimana tempat-tempat yang kita kunjungi, tuker informasi, dan mendukung passion gue di traveling dan nulis. Dan dia adalah pemimpin dengan metode result oriented, makanya gue kerja nggak begitu stress, karena orangnya percayaan dan nggak donder terus-terusan, justru membiarkan gue memecahkan masalah gue sendiri dan kalo gue “mentok”, gue bisa dateng ke dia dan diskusiin semua masalah kerjaan bareng. Selama bekerja, gue merasa menemukan pemimpin, mentor, temen, dan pelawak πŸ˜† Tentu saja nggak ada orang yang sempurna, tapi cara dia membawa diri sebagai orang tertinggi di perusahaan patut gue acungi jempol.

Dan karena gue ngerti rasanya mengejar mimpi demi hidup yang lebih baik dan sejahtera, sesedih-sedihnya gue, gue mendukung kepindahannya. Kesempatan yang dia raih sekarang jauh lebih besar, dan mungkin negara yang baru ini juga lebih kondusif untuk dia dan keluarganya tinggal, dan yang pasti kesempatan kerja yang lebih baik akan memberikan kesejahteraan lebih baik juga untuk anak dan istrinya. Because in the end, that’s all that matters. Your life and your family.

Gue bersyukur sekali selama dua tahun gue di perusahaan ini, pekerjaan gue membuat gue bisa berhubungan dengan banyak pihak di perusahaan. Karena kerjaan gue megang Communications di kantor, dan juga ngerjain project-project lepas, mau nggak mau gue harus sering-sering berhubungan dengan top level management (padahal kerjaan gue nggak seribet mereka, tentunya) baik di level country, regional, maupun global. Gue percaya karakter itu terbentuk sedikit banyak oleh lingkungan, maka bersyukurlah apabila kalian “terlempar” di lingkungan yang “kelas berat” kayak bos-bos tadi, karena perspektif kalian pasti akan jadi beda. Somehow, lo jadi terpacu untuk bisa jadi kayak mereka lebih cepat. Cara mereka berpikir, bicara, membawa diri, dan sebagainya secara nggak langsung akan lo serap. Dan gue kagum banget sama betapa pinternya direktur dan manager-manager ini, kalo meeting tuh mereka cepet banget “nangkep” apa yang diomongin, kritis, bertanya hal-hal detail yang mungkin gue di level cara berpikir segini nggak akan kepikiran. Makanya gue seneng bisa mengamati dan mempelajari mereka. Bersyukurlah kita yang bisa dapat kesempatan seperti ini, yang belum, carilah kesempatan itu πŸ˜€

Kalau gue menengok ke belakang, sampai kapanpun gue nggak akan lupa tahun-tahun awal gue bekerja.

Beresin arsip-arsip numpuk karena nggak ada yang mau beresin? Pernah.

Fotokopi, ngescan, terjemahin dokumen, ngefax, bikin label untuk arsip, dan ngerjain segala pekerjaan remeh di kantor? Pernah.

Bikinin minum untuk tamu, pesenin makan siang untuk bos? Pernah.

Mondar-mandir ke sana ke mari untuk ngurusin printilan kantor? Pernah.

Dipandang sebelah mata? Pernah.

Kerja part-time? Pernah.

Nahan laper nggak makan siang karena duit pas-pasan? Pernah banget.

Turun naik-bis setiap hari? Pernah.

Pakai baju dan sepatu yang itu-itu lagi selama setahun karena belum bisa beli yang baru? Pernah.

Hidup dengan 100ribu seminggu? Pernah.

Pagi-sore kerja, malem ngerjain skripsi? Been there.

Capek? Banget, bok.

Ngeluh? Jangan sampe sering-sering.

Kadang gue suka ngobrol sama beberapa sahabat gue, khususnya yang “kisah hidup” dan susah-susahnya sama. Kami suka ngetawain betapa mirisnya kami dulu dan betapa bersyukurnya kami sekarang. Bukan berarti sekarang kami jadi kaya raya apa gimana *AMIN*, tapi kami sadar, ternyata hidup itu adil, ya. Sepahit-pahitnya hidup, ternyata nggak selamanya akan susah. Ya hidup tuh emang gitu, semuanya harus dilewatin. Ngerangkak emang harus pelan-pelan. Kalo nggak susah dulu, mungkin kami nggak bakal bisa bersyukur sama hal-hal yang kami dapatkan hari ini. Mungkin kami malah akan jadi pribadi yang manja dan gampang ngeluh atau bahkan nyerah. Tantangan dan berat-beratnya hidup akan selalu datang kapan saja, tapi dengan semangat maju yang tinggi, gue yakin, hidup hanya akan jadi lebih baik.

Itu makanya gue kagum sekali sama bos-bos dan temen-temen gue yang gue tahu perjalanan kariernya. Gue tahu gigihnya mereka belajar dan bekerja untuk sampai di mimpi-mimpi mereka. Salut denger cerita susahnya mereka dulu. Salut dengan cara mereka survive, salut dengan konsistensi mereka mengerjakan pekerjaan yang sesuai passion. Salut sama semangat mereka untuk maju.

Dan sudah pasti, di satu sisi gue eneg banget sama orang-orang yang klemar-klemer nggak punya tujuan hidup yang jelas. Ada loh, orang-orang di luar sana yang kondisi finansialnya baik-baik saja, bahkan sampe disekolahin di luar negeri tapi malah disia-siain kesempatannya. Ada yang mungkin kebiasaan dimanja, begitu udah gede ngerjain hal-hal remeh aja nggak bisa, ujung-ujungnya jadi heboh nanya sana-sini ngerepotin orang lain. Sakit kepala, kan, akik! *curhat* Ada yang mungkin besar di lingkungan yang santai, nggak banyak tuntutan, sehingga ngejalanin hidup selooow bener, nrimo-nrimo aja, bahkan cenderung pasrah dan cepet puas, padahal umur kagak tambah muda. *setres ngeliatnya*

Yah mungkin gue jadi terdengar arogan sih, tapi ketika sepanjang hidup lo, lo udah terbiasa “lari marathon halang rintang”, males nggak sih harus berurusan sama orang-orang yang “lari segan jalan tak mau” (baca: orang-orang pemalas)? Dulu waktu masih polos, orang-orang kayak gini masih gue jabanin, begitu udah capek sendiri, lama-lama gue tinggal. Mending egois dikit dan kita nggak usah berurusan sama yang bikin sakit kepala kayak gini, deh. Mending fokus ngurus kesejahteraan hidup sendiri. Nobody wants to end up being a loser nor wants to marry one, yes?

Apakah inti dari postingan super panjang ini?

Well, cuma ingin menyampaikan bahwa manusia itu di”desain” untuk maju. Ada alasan kenapa kita lahir, dan bahwa kita hidup untuk mendefinisikan alasan itu dengan cara kita sendiri. Itu kenapa orang hidup punya tujuan. Dan di tengah-tengah itu semua, kita akan menemui rintangan, perubahan, kesempatan, sampai akhirnya kita menghasilkan sesuatu dari itu semua.

Taking chances, accepting changes, making progress.

Itu yang bos gue yang lakukan dengan hidupnya, dan gue sangat menghormati keputusannya biarpun gue sedih. Suatu hari, dan mungkin tidak lama dari sekarang, gue pun akan membuat keputusan-keputusan penting dalam hidup, akan gambling dengan banyak hal, akan ngelewatin hal-hal “seru”, semua, demi mencapai kehidupan yang gue mau.

Dan kita semua pasti juga begitu, kan?

Semangat ya, teman-temanku sayang πŸ™‚

Apapun keadaan yang sedang kalian jalani saat ini, jangan pernah membiarkan semangat hidup kalian hilang. Jangan pernah hidup tanpa mimpi, jangan berhenti lari, jangan nyerah sekarang. Kalo saat ini kamu lagi ngelewatin masa-masa pahit, telen aja, lalu lari lagi. Percaya deh, sakitnya kamu sekarang akan kebayar dengan hal-hal yang menyenangkan di masa depan. As long as you put your heart into your goals, your life will be just fine.

Gue selalu percaya hati yang baik, pikiran yang positif, dan semangat hidup yang tinggi akan membawa kita jauh.

Dan kalian adalah orang-orang yang diberkati dengan itu semua πŸ™‚

Love,

Teppy

29 comments

  1. nenggg.
    aku baru pindah desk juga per minggu ini. berasa bener harus pindah dari comfort zone ke tempat baru. nyang mana akan terjadi lagi dalam 3 bulan berikutnya. =/
    yes, di’desain’ untuk maju! what you’ve written up there has really boosten me uppppp. dan yang pasti, aku semakin bersyukur, karena seperti kamu, bisa bekerja di lingkungan kerja dan bos bos yang baik hati.
    have a superb day ya, jeng Tep! pengen deh bisa temu temu sama kamu kapan-kapan. bersama Andy William juga yang sudah jadi sarjana (jadi inget masa pertama berjumpa denganmu di kantin kampus tercinta hehe). :)))

    • aaaa… terima kasih, neng! πŸ˜€ you too have a superb day yaaa! ayuk janji ketemuan segera sama Andy juga! πŸ˜€ aku available most of the time, kok πŸ˜€

  2. jadi pengen cerita dikit, waktu sebelum lebaran gue harus expose di Pangkalpinang,Bangka trus langsung mudik ke Malang. dan berhubung ada PON di Pekanbaru jadi kehabisan tiket aja dong ke Jakarta, jadi ambil tiket ke Padang. dan urutan hidup selama 2 hari berikutnya adalah : Rabu pagi jam 10 ke Padang (8 jam perjalanan),nyampe jam 6 sore. Flight ke Jakarta jam 19.30 WIB. Nyampe Jakarta jam 10 malem, naik damri ke Cibubur nyampe rumah sodara jam 12 malem. Jam 4 pagi besoknya berangkat lagi ke bandara ngejar flight jam 6.30 ke Pangkalpinang, nyampe jam 8. Langsung ke lokasi expose 1,5 jam perjalanan. Balik ke Bandara Pangkalpinang flight jam 15.30 ke Jakarta, nyambung flight ke Surabaya jam 21.00 WIB. Nyampe Surabaya jam 10 malem, naik travel 2 jam ke Malang nyampe jam 12 malam. Dan sepanjang jalan dari Surabaya ke Malang gue berpikir sambil merasakan penat dan lelah yang teramat sangat ‘ya ampun, susah ya cari duit’. tapi itulah hidup ya…harus dijalani ;))

    • AAAAAAAAAAAAAAAK! Gila “rusuh” banget itu itinerarynyaaa! Tapi iya emang neng emang kita kudu ngelewatin yang gitu-gitu ya… Yang bikin capek dan pengen nangis, tapi setelahnya malah bisa ditertawakan πŸ˜€ semangaaat! πŸ˜€

  3. dear neng teppy,
    postingan ini sungguh bikin mewek siang” begini.. but thank you so much for reminding that every of us were being designed to keep moving forward.. so blessed with this, God always bless you with many good things ya neng..
    and thank you for being one of the inspiration in life.. πŸ™‚

  4. Postinganmu bagus sekaliiiiii, manis :*
    Semoga kita selalu diingatkan untuk bersyukur dan terpacu buat maju yaaaa, dan dibukakan jalan buat lebih sukses lagi ke depannya.

  5. Hi there,

    You might know who am i or maybe not… But it doesn’t matter. I just wanna thank you for writing down this article. I read it till the end and feels like “Slapping my face” and at the same time there’s a boost for me to keep looking ahead no matter how hard rite now and don’t give up…. Survive is survive but survive to go further and reach the dreams.

    Also you remind me about regretting what happened in the past is just like running in a treadmill.. Sometimes i still regretting about my decision in the past but it we can’t turn back the time rite. I believe God letting me through it for some reasons… to be a better person and more closer to Him.

    Okay then, Once again really thank you for your thoughts. This is not just about experiences, writing down your feeling, or making your blog becoming more awesome. I believe God is using your words to make others feel about what they should feel until rite now… Blessing, Grateful, Pain, Lost, Give Up, Feeling down, Ugliness, Feeling Blue or anything else… Its all worth it at the end of our life and goals.

    God bless you always, Teppy my friend.

    • hello there my friend,

      glad to know that this article came to you as a reminder πŸ™‚ i wish you nothing but the best for your life, never ever give up πŸ˜‰

      it’s okay you wanna stay anonymous, but I’m kinda curious πŸ˜€ have a good life, dear friend! πŸ˜€

  6. Baca ini dan gue ngembeng merasa ditampar.. such a mood booster neng!! :)) yuk mari ketemuaan bareng Vinny juga.. *duh, tapi gue jadi berondong diantara tante2 dong ya nanti?* *ditusuk bolpen*

  7. baru sempet mampir lagi tep,,
    ‘manusia di desain untuk maju’ super banget kata-kata nya..
    nyelepet hati banget, bikin pengen buru-buru ngehajar keadaan πŸ˜€
    thx yak mba josephine postingan mu yang satu ini membekas di hati banget :’)

  8. Damn.

    1. Envyyyy… πŸ™‚ Dari sisi lingkungan pekerjaan yg mendukung untuk terus berkembang. Gue bagian dari org Β² yang setuju bahwa lingkungan mempengaruhi karakter seseorang.

    2. Making chances, accepting changes, making progress <— like that quote , meski susah juga jalanin ketiganya πŸ˜€

    3. Mari berdoa semoga Mr. Bulei mantan bos mu, bisa menjadi bos sayah, yg artinya dia apply ke kantor gue atau diri Ini yg diterima dikantornya yg baru *AMINNNN Ζ—Ζ—Ι‘Ζ—Ζ—Ι‘Ζ—Ζ—Ι‘Ζ—Ζ—Ι‘… *

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s