Teppy and Her Other Sides

Eat well, live well, and be merry!

MOVIE REVIEW SUKA-SUKA: Perahu Kertas [Spoiler Alert]


Sebagai penggemar bukunya, khususnya karena gue adalah tim Remi maupun tim Keenan (intinya, kalo ada laki kayak dua orang ini mending gue poliandri ketimbang disuruh milih :lol:), jadi kehadiran filmnya pun gue tunggu-tunggu. Ceritanya sendiri menurut gue sih sederhana, yang bikin gue suka adalah karena gue punya romantisme sendiri sama surat dan hal-hal berbau tulisan tangan (seperti buku dongeng tulisan tangan Kugy yang ditempel sama gambar buatan Keenan). Pokoknya gue selalu suka dengan gaya percintaan yang melibatkan surat-surat romantis dan kado buatan tangan *ehem* Selebihnya, alasan utama gue ngefans sama buku ini ya tentu saja karena karakter Keenan dan Remi, sampe ngarep Kugy di novel itu berganti nama jadi Teppy. Gue pasti akan jadi karakter yang jauh less melodramatic dan memilih menggarap dua-duanya.

ABAIKAN KALIMAT BARUSAN.

Akhirnya di suatu Jumat sore tanggal 16 Agustus (hari penayangan perdana), gue meluncur ke Plaza Senayan untuk nonton film ini, sendirian. Eh taunya samaan sama kedatangan Pak BJ Habibie yang juga mau nonton bareng sama cast-nya Perahu Kertas, jadilah waktu itu gue nonton sama semua pemain dan sutradara.

TERUS KENAPA?

Ya intermezzo aja, sik πŸ˜†

Adipati Dolken (Keenan) sama Reza Rahadian (Remi) ganteng yah :’) *TETEP*

Gue keluar dari bioskop dengan perasaan hampa dan datar-datar aja. Biasanya ya, kalo nonton film cinta-cintaan Hollywood, biar kata filmnya cheesy dan tipikal, gue pasti keluar bioskop dengan perasaan:

  1. Nelangsa pengen ada laki romantis kayak pemeran laki-laki di film itu
  2. Mengingat dengan jelas beberapa adegan romantisnya
  3. Sibuk ngapalin dan browsing quotes manis yang terlontar di dalam film
  4. Ngetweet tentang filmnya (most likely, quotesnya)
  5. Ngetweet tentang lakinya. Yang ini mah template.

Intinya, ada reaksi dan rasa senang setelah menonton feel-good movie seperti Perahu Kertas ini. Tapi ya itu, ternyata nggak “kena” di gue.

Sebelum gue bahas lebih lanjut kenapa, hari Minggu, 26 Agustus lalu, gue nonton film ini lagi, kali ini nggak sendirian tapi sama ChaCha. ChaCha baru saja menyelesaikan membaca bukunya, sementara gue udah lupa-lupa inget sebenernya, jadi dialah yang merefresh gue. Yang pasti gue inget perasaan gue setelah baca bukunya nggak sedatar setelah gue nonton filmnya. Dan nonton sama ChaCha berarti kami akan jadi duo komentator setiap detail filmnya. Hal ini nggak mungkin gue lakukan kalo nonton sendiri karena nanti disangka delusional, padahal gatel pengen komentar, sementara kalo ditweet jadinya spoiler.

Dan gue nonton dua kali karena butuh justifikasi ChaCha dan juga diri gue sekali lagi sebelum mereview filmnya, supaya gue nggak asal jeplak.

So here goes…

Mari kita samain persepsi dulu kalo membuat film yang diadaptasi dari novel itu emang tricky dan kalo satu novel kudu diceritain semua-muanya keluar bioskop umur kita bisa menua setahun, saking lamanya. Perkara aktor/aktris yang memerankan tokoh-tokoh di novel juga nggak akan bisa memuaskan semua penggemar bukunya, karena imajinasi kita beda-beda. Yang penting buat gue, sih, asal nggak jauh-jauh amat dari bayangan, atau justru melebihi ekspektasi.

Dan makanya, harusnya penyelamat utama dari film adaptasi novel, di luar permainnya, adalah sutradara dan penulis skenario. Supaya kalaupun cerita nggak sama persis, kita masih keluar bioskop dengan hati yang sama senangnya seperti setelah baca bukunya.

Sutradara filmnya adalah Hanung Bramantyo, penulis skenarionya adalah Dewi Lestari sendiri. Paling nggak dari segi skenario, karena yang menulisnya adalah si penulis buku sendiri, harusnya ia tahu betul jiwanya buku ini, bagaimana watak, sifat, ciri, dan pembawaan karakter yang dia ciptakan, adegan-adegan di buku yang ingin diterjemahkan ke gambar bergerak, dan sebagainya.

Memang nggak ada yang sempurna, tapi buat gue, filmnya jauh sekali dari ekspektasi gue.

YANG GUE SUKA

1. Soundtrack yang bagus banget!

2. Akting pemeran Eko (Fauzan Smith) dan Remi (Reza Rahadian). Beneran deh, dua karakter ini mencuri perhatian dan “nolong” film ini banget. Eko dapet banget lucu dan ceplas-ceplos khas anak mudanya. Sementara Remi yang cool tapi menyenangkan bikin gue kesirep. Kayaknya orangnya smart dan ngemong gitu, ganteng pula. Tio Pakusadewo sebagai Pak Wayan biarpun perannya kecil, gue merem aja deh, nggak punya kritik untuk aktor seksi serba bisa satu ini. Baik logat Bali dan pembawaan santai ala bapak-bapaknya “dapet” bener menurut gue…

Udah sih, itu aja yang menurut gue bagus dari Perahu Kertas.

Selebihnya ya itu, berasa nggak greget.

Setting Bandungnya nggak berasa di Bandung. Yang menunjukkan kalo itu Bandung cuma gambar Gedung Sate di awal film, gambar Stasiun Bandung, dan jalan Braga kalo mata gue nggak salah liat. Selebihnya gue nggak tau itu di mana, kayak kampus dan warung Pemadam Kelaparannya.

Terus, kos-kosan Kugy sama Keenan kenapa… bobrok amat? Gue nggak tinggal di Bandung tahun ’99 sih, cuma untuk karakter yang kelas ekonominya nggak miskin (kayak Kugy dan Noni) dan TAJIR BANGET kayak si Keenan (liat aja rumahnya di Jakarta yang segede alaihim, disekolahin di Belanda pula 6 taon), kos-kosannya menyedihkan sekaliii… Reyot gitu, akik jadi pengen bantu bersihin. Gue pernah tinggal di perkampungan Betawi dulu, di rumah kontrakan, semini dan sesederhananya tuh rumah, nggak sampe gitu-gitu amat bentukannya… Nampak dekil.

Pun sama kereta yang mereka naiki. Kayaknya kalo model Keenan Kugy yang bukan orang susah, paling nggak naik eksekutif gituh… Menurut gue, sik.

Lalu baju-bajunya Keenan sama Kugy… Sekali lagi gue nggak tahu fashion jaman ’99 dulu kayak apa, tapi di majalah GADIS yang gue baca dulu sih nggak jelek. Mungkin kostum akan keliatan jadul, tapi nggak jelek dan dekil. Gue paling shock pas liat baju Kugy pas dia mau ke kosan Keenan (karena Keenan ulang tahun). Baik baju yang dicoba di depan kaca maupun yang akhirnya dia ganti tetep aja sama jeleknya. -______-

Maafin gue ya kalo ada yang terlibat ngurus Perahu Kertas, tapi beneran. Di bayangan gue Kugy tuh edgy, nampak tomboy di luar (walaupun mellow di dalem kayak gue, hehe), dan KEREN. Bahwasanya kekerenan tidak akan berkurang kalopun dia seradakan ataupun dia hidup di tahun ’90an. Seradakan bukan berarti bajunya dekil dan kumel gitu.

Lalu Keenan juga jadi tenggelem gantengnya karena nampak… kusam. Ingin kuajak cuci muka dikit biar lebih cerah mukanya. Dan bajunya juga sama aja, nggak nolong. Kan padahal dia orang kaya yaaah… Rumahnya segede gaban gitu masa emaknya ngebiarin dia pake baju jelek. Seniman sihΒ  seniman, tapi pas pake baju casual kenapa bajunya gitu 😦 Liat deh pas dia lagi di Warsita Gallery di pameran lukisan pertamanya. Emaknya Keenan dateng nampak kinclong, Wandanya juga, terus Keenannya pake baju kotak-kotak ijo yang nampak belum disetrika 😦 Padahal kan itu hari “besar”nya.

Walopun gue pengen nyatokin rambut Wanda yang juga nampak berantakan, tapi secara logika menurut gue ya wajar aja kalo Keenan milih Wanda, secara bening banget kayak gitu. Sementara Kugy konsisten dengan jaket buluk dan koleksi baju seadanya plus kupluk penjaga villa. Kekerenan dan kenyentrikan Kugy jadi nggak berasa.

Itu soal penampilan.

Yang bikin krik krik lainnya adalah “radar Neptunus” yang diterjemahkan mentah-mentah. Seinget gue (benerin yak kalo salah), radar Neptunus (naikin dua telunjuk ke kepala seolah itu antena) cuma buat becandaan sepintas doang. Nggak kemudian jadi hal yang lumrah untuk dilakukan berulang-ulang.

Mungkin “radar Neptunus” dua jari di kepala dimaksudkan jadi gimmick di film ini, tapi semoga gue masih normal di antara orang kebanyakan, akankah lo memperagakan radar itu di depan gebetan elo? Secinta-cintanya gue sama si pirang misalnya, gue pasti bakal krik krikΒ  juga kalo dia tiba-tiba bikin antena di kepala depan muka gue. Dan gue yakin dia juga langsung ilang napsu nyium kalo gue tiba-tiba memperagakan radar itu di depan dia.

Terlebih lagi, akankah di sebuah meeting penting di kantor lo, ketika bos lo nanya pendapat lo akan suatu hal, lo akan berlagak berpikir sambil ngeluarin radar tadi di kepala lo DI DEPAN SEMUA ORANG? -______- Gue nggak kebayang gue melakukan hal itu di depan bos gue. He must think I am insane. Kugy itu nyentrik, tapi bukan berarti freak.

Dan gue setres tiap liat dia bikin radar itu -_______-

Apalagi ya?

Ohhh, soal alur ceritanya tentu saja!

Buat gue, Kugy di film ini amat sangat drama… Coba lo itung dengan jari berapa kali dia ketemu sama Keenan (semoga nggak ada yang kelewat).

1. Di stasiun kereta api dan nyari Keenan pake radar Neptunus -_-

2. Ngobrol di kamar kos di hari yang sama

3. Di warung pemadam kelaparan

4. Di kosan Keenan pas liat lukisannya pertama kali terus ngobrol dan lagi-lagi radar itu keluar -_-

5. Di kosan Keenan lagi pas Keenan ulang tahun dan si Kugy mengkeret liat Wanda (yang jauh lebih cakep) ngedeketin Keenan

6. Di kereta menuju Jakarta dan sempet ngobrol deket rel kereta karena kereta berhenti

7. Di Sakola Alit setelah mereka lama nggak ketemu

8. Di kawinan Eko & Noni

Udah tuh, itu pun nggak ada adegan ngobrol yang bener-bener intense di delapan kali pertemuan. Dari awal ngobrol sebentar di kamar kosan Kugy abis Keenan nyampe di Bandung, Kugy langsung naksir.

Tapi nggak pernah ada adegan mereka smsan kek, ngobrol berduaan kek, telponan kek, pergi bareng kek, apa kek gituuu… Tau-tau udah mundur teratur aja si Kugy gara-gara Wanda. Udah “dalem” si Kugynya ampe dipendem bertahun-tahun. LALU ATAS DASAR APA JATUH CINTANYAAA?

Kalo dia jatuh cinta sama Remi gue ngerti, kan ketemu tiap hari, si Reminya juga menyenangkan walopun Kugynya freak gitu tetep baik dan ditaksir (belom kenal Teppy aje), dan Remi rajin ngajak makan. Ya wajar aja kalo mereka jadi deket dan jadi saling suka. Ada intensitas komunikasinya gitu. Sementara inti cerita dan dua tokoh utama di film ini yang harusnya jadi “nyawa”nya, sms ama telponan aja kagak pernah, tapi dua-duanya kayak cinta mati gitu.

Soal lain adalah kedramaan Kugy yang nggak mau dateng ke ultah Noni karena minder sama Wanda (ya pantes sik dia minder). Sekesel-keselnya gue sama kedramaannya, bagian ini aneh banget menurut gue. Noni sama Kugy kan katanya sahabatan udah lama. Tapi nggak ada adegan marahan setelahnya, adegan Kugy ngasih penjelasan atau apa, adegan Noni ngambek kek, ape kek… tau-tau beberapa tahun kemudian udah baikan aje nih berdua. Hanya karena Noni sadar si Kugy tuh taunya naksir BANGET sama Keenan. Keenan yang nggak pernah telponan dan smsan ama si Kugy. Elaaah…

Dan di tengah semua drama kumbara dan konflik yang diciptakan, adakah dari kalian yang bertanya, fungsi adegan Sakola Alit itu apa? Jadi kayak tempelan doang, nggak ada juga nggak papa. Makanya menurut gue, Sakola Alit nggak cukup kuat untuk jadi alasan Ojos sama Kugy putus.

Okay, satu lagi yang gue nggak sreg adalah… kan setting waktunya ini bergeser ke tahun 2003 ya, yang mana empat tahun kemudian, Keenan harus menggantikan bokapnya di kantor dan Kugy masuk kantor baru. Dan mereka berdua nampak seperti karyawan under age -______-

Lewat empat tahun kita pasti menua yah… Nah ini kagak, bok. Keenan masih sama bentukannya, masih kerempeng, gondrong berantakan, pake gelang, dan berkemeja kantoran ngegantiin bapaknya yang notabene adalah bos -_-

Sementara si Kugy tetep kekeuh masuk kantor baru dengan dandanan yang sesukanya (kudunya nyentrik) tapi tetep aja dekil maning, dekil maning… Dan dia tetep pake kupluk merah penjaga villanya -_- Lalu Remi naksir, padahal ada Siska yang bening semampai di kantornya. Ini gue yang gila apa gimana, sih? Nyentrik is one thing, butΒ  being “dekil” is not part of it. Apalagi di kantor -__-

Dan empat tahun berlalu, duo Kugy dan Keenan nampak seperti anak-anak SMA yang dilempar ke kenyataan hidup terlalu cepat. Mukanya kemudaan banget, jadi nggak cocok. Harusnya diganti gituh, setelah empat tahun castnya ganti biar keliatan dewasa… *ngajuin diri*

Oke gitu deh kira-kira review gue. Mungkin kedengarannya ceplas-ceplos tapi gue jujur. Ini karena gue sayang aja kalo image buku Perahu Kertas yang dinilai bagus jadi jelek karena film bagian pertamanya memble. Yang fatal adalah film ini dibagi dua bagian. Dan untuk sampai ke titik kita pengen nonton yang kedua, the first one should be really captivating. But well, eventhough this first one didn’t satisfy me at all, I’m still gonna see my Remi in the second part. *berasa hak milik*

Cha, nonton lagi kita?

Advertisements

36 comments on “MOVIE REVIEW SUKA-SUKA: Perahu Kertas [Spoiler Alert]

  1. Rara
    August 28, 2012

    Ternyata ga cuma gw yang ngerasa biasa aja pas kelar nonton, Emang yang bagus dari filmnya adalah soundtracknya, siganteng Reza rahardian plus aktingnya Fauzan smith yg ngebuat ngakak.

  2. Ibeth
    August 28, 2012

    Terima kasih sudah menyuarakan isi hati saya. Bok, yg kedua, nobar kita! Semoga gak disambit orang kalau berisik.

    • Teppy
      August 28, 2012

      HARUS BANGET NONTON BARENG! πŸ˜€

  3. fk
    August 28, 2012

    belum nonton dan baru akan nonton, cuma setelah diliat liat dari trailer, kayaknya bener deh, si kugy nya dekil bener –“

    • Teppy
      August 28, 2012

      nonton dulu terus lo simpulin deh -_- buteg semua πŸ˜†

  4. peblem
    August 29, 2012

    DVD-nya kapan keluar siihh? -___-

    • Teppy
      August 29, 2012

      masih lama kayaknya πŸ˜€

  5. Saptono
    August 29, 2012

    setujuuuu tep…gak kenaa di gw.

  6. kittenholic
    August 29, 2012

    postingan lo menambahkan review miring ni pelem dari para pembaca bukunya, yg alhasil bikin gw makin kaga pengen nonton hahahaha. gw udah baca bukunya, dan baru baca ulang bukunya menjelang keluar film nya, dan yg di imajinasi gw itu indahh bener ceritanya, kaya mellow2 romantis gimana gituu.. sweett.. gitu deh.. tapi dari baca deskripsi review lo aja gw jadi mengernyitkan dahi hahaha.

    btw, soal komentar lo soal kos2an keenan yang nelangsa bener, setelah baca bukunya, itu emang persepsi yg gw dapet juga dari bukunya. soalnya ceritanya dia kan emang mau hidup mandiri dari hasil ngelukis, jd bener2 harus ngirit, dan kos nya emang miris bener penggambaran di bukunya. tapi ya mngkn karena di film ga diceritain jadinya aneh bener.

    jadi gw mau nonton ato ga yahhh *dilemah wkwkwkwk

    • Teppy
      August 29, 2012

      ahahahhaha… ayok nonton dan buktikan sendiri :p

  7. nadia
    August 29, 2012

    karakter yg paling kena menurut gw adalah : Ludhe!
    akting cast nya melebihi ekspektasi gw.
    sisanya.. YA ITU SI KEENAN KENAPA DEKIL AMATAN! :))
    *lempar sisir*

  8. Leny
    August 29, 2012

    yang paling krik-krik menurut gw justru sekolah alit. itu temennya kugy sapa deh namanya? aseli kaku banget, jadi berasa nonton FTV. Pas nonton gw jg nyeletuk soal baju, kenapa kerah kaos kugy dan keenan semuanya melar????
    eniwei.. yang membekas nonton PK the movie ini emang cuma Reza Rahadian yah.. Subhanallah ganteng banget tuh orang :”D

  9. PoppieS
    August 29, 2012

    NYAHAHAHAHAHAHAHAHA AKU JADI MALES NONTONNYA… padahal baca bukunya sampe nangisnangis bombay gitu loh…

    • Teppy
      August 29, 2012

      iya makanya bubar jalan pas nonton filmnya -_-

  10. PoppieS
    August 29, 2012

    btw… REYOT!!! itu kata udah hampir ilang dari ingatan gw!

  11. melissa
    August 29, 2012

    Yeap ! That’s what I feel when first time saw the trailer, yah sih baru liat trailer makanya jadi males buat nonton tapi pasti nonton πŸ™‚ .. Fashionnya ga banget, yah namanya film wardrobe juga salah satu yang penting, emang settingnya jadul taon99 tapi jaman itu juga ga dekil2 banget dan 2003 itu harusnya ga beda jauh .. Sih sutradara abang hanung ga jeli emang klo soal wardrobe -_-

    β™‘ the review

    • Teppy
      August 29, 2012

      ahahah, thank you! tapi nonton aja biar bisa menilai langsung πŸ˜†

  12. deviovi
    August 29, 2012

    totally agree. gue juga mikir gitu. i mean, gue udah denger novel perahu kertas dari lama. kata temen gue bagus banget. gue gak sempet baca sih. jadi pas keluar filmnya, ekspetasi gue rada berlebih gitu deh. ditambah lagi temen2 gue pada dateng premiernya (dan gangasih review). dan finally gue nonton bareng sepupu dan adek gue. dan setelah keluar bioskop. well, what was that? menurut gue lebih mirip ftv di filemin kali ya

  13. ninarahmaizar
    August 29, 2012

    aaaaaaah ternyata bukan aku saja yg merasakan kurang gregetnya perahu kertas…. setujuuuuuh dgn lo tep, cuma eko dan remi yg membantu…. remiiii aku padamuuuuu
    aku balik dari bioskop langsung buka novelnya lagi, krna perasaan cerita antara kugy dan keenan lebih detil gituuuuh -____-
    yaaah bener jg sih kata lo tep, kalo sesuai buku kita nontonnya keburu tua πŸ˜€ semoga ntar part 2 gk ngecewain lagi ya πŸ™‚
    btw aku ngakak baca ini :

    ‘ sampe ngarep Kugy di novel itu berganti nama jadi Teppy. Gue pasti akan jadi karakter yang jauh less melodramatic dan memilih menggarap dua-duanya.’
    dan ini :

    Dan empat tahun berlalu, duo Kugy dan Keenan nampak seperti anak-anak SMA yang dilempar ke kenyataan hidup terlalu cepat. Mukanya kemudaan banget, jadi nggak cocok. Harusnya diganti gituh, setelah empat tahun castnya ganti biar keliatan dewasa… *ngajuin diri*

    teteeeeeeup yaaah neng usahaaaa demi Remi :p

    oooh ya 1 lagi….. Ost emang keceeeeeh, apalagi yang ‘Tahu Diri’ bikiiiiin hati πŸ˜₯

  14. arum_tyas
    August 29, 2012

    iyah ni.. ak juga mikir ini pilemnya detil2nya kurang, tak pikir cuma ak aje yang ngerasa, ternyata banyak ye.. hehehe.. dan kenapa di sekolah alitnya udah ada bekas botol mizone? padahal itu taon berape ya?? wadrobenya juga masih gak cocok sama setting waktunya.. tapi gak papalah si mas reza rahardiannya teteup ganteng.. hohoho..

  15. Kesukaannya Maya
    August 30, 2012

    Tep, entah kenapa yang kebayang di pikiran gue pas baca novelnya sih yang cocok jadi Keenan tuh Samuel Zylgwyn, lah terus Adipati Dolken ituh siapaaaa huahahahahah X)).
    Anyway, setuju gue soundtrack nya PK bagus. Untuk film nya, pas gue liat trailer nya kok udah gak napsu ya mo nonton, bersambung ke part dua pula. Nunggu DVD nya aja deh. Sayang emang kalo film nya malah “ngerusak” novelnya. Novelnya kan bagus banget, asli bikin gue jatuh cinta sama Keenan & Remi *yap kalo gue jadi Kugy, gue pasti bakal milih poliandri daripada mesti milih diantara mereka berdua :D*

  16. Ruthie
    August 30, 2012

    Wah, gw juga penggemar beratttt Perahu Kertas, Tep. Dibaca bolak balik itu novel juga ngga akan bosen2.
    Tapi pas gw tau itu buku bakal dipilemin, gw sama sekali gak berminat buat nonton. Buat gw, Tep, film2 yang diangkat dari novel, pasti mengecewakan. Mending gak usah baca bukunya, deh, langsung nonton aja. Apalagi (sori) itu produksi Indonesia.
    Dan setelah gw baca review lo itu, gw makin yakin teori gw bener (at least buat gw).

    Yah.. itung2

  17. fk
    August 30, 2012

    Oke, gue udah nonton. Kugy nya walo pun dekil ya masi termaapkan lah, setidaknya bajunya doang yang dekil, mukanya masi enak lah diliat (kecuali bagian ngantor pake kupluk dan bikin radar neptunus pas meeting. freak. -____-“) Tapi si Keenan.. si Keenan.. gatel gue pengen ngasih sabun, nyuruh mandi dulu sebelum suting..

    dan kenapa pula gue mesti laporan ya? ah.. sudahlah πŸ˜€

  18. karamelkinema
    September 5, 2012

    ngakak gila baca review dengan kata2 kugy dekil dimana2 πŸ˜€ i agree though~ karena saya sendiri tidak baca bukunya jadi ya hanya menerima filmnya sebagai film aja. but i still was underwhelmed by it. setuju dengan point cinta kugy keenan yang ga bisa dimengerti, esp dengan akting lead-nya yang terasa sangat datar dan tanpa chemistry…

    haduh haduh! XD

  19. miranti anggraini
    September 12, 2012

    aak ka teppy, kau menyuarakan isi hatiku :*
    dari awal aku udh gak sreg sm cast nya pas diumumin di twitter, pertama Keenan, buat aku Adipati itu terlalu abege gak akan pantes saat dia gantiin bapaknya jd bos, maunya sih Nicolas Saputra πŸ˜€ agak gak sreg juga sama yg jadi Kugy tapi yasudahlah, tadinya gak mau nonton cuma berhubung udh baca novelnya dan penasaran akhirnya nonton juga. Sepanjang film aku pasang poker face dan baru bernyawa saat adegan Remi dan Eko, bener mereka yg menyelamatkan film ini. Sekolah Alit juga berasa gak bermakna ya ketika di film kan padahal di novel Sekolah Alit punya kesan sendiri buat pembaca.

    • Teppy
      September 12, 2012

      IYAAAAAAAAAAAAAA… makanya kan ya akik kecewa kecuali sama Remi dan Eko -______-

      moga2 yang part 2 agak lebih mending yah, walaupun castnya tetep kurang OK

  20. mutia
    September 15, 2012

    *baru berani baca review ini setelah nonton filmnya* πŸ˜€
    Iya… gw juga mikir kok si Keenan dan Kugy interaksinya dikit bener jadi ga keliatan gimana mereka bisa segitu saling jatuh cintanya. Yang berkesan? *berusaha nginget2* err… semoga ga basi kalo bilang Reza Rahardian :p

    • Teppy
      September 17, 2012

      gak basi dong, gue tim Reza Rahadian forever πŸ˜€ lanjut nonton Test Pack deh bok :p

  21. tyasdwipamungkas
    September 21, 2012

    Setuju sekali Nona Teppy. Berasa nyesel ngabisin waktu dan uang di weekend gue yang indah buat nonton film begitu. Terlalu besar ekspektasi saya, nggak sesuai sama kenyataan.

    • Teppy
      September 21, 2012

      ahahahahak… gue nonton demi bisa mengomentari πŸ˜†

  22. sarah mia ngesti
    September 22, 2012

    tdnya sih ga pengen nonton tu film cos anak gw pengen nonton yaaaa….kpaksaaaa …..kpaksa ngluarin duit ama wkt sia2 tau gitu meningan nonton film laen dah…..gw empet banget ama tokoh cwnya SI KUGY yg egois, mencla mencle ama cowo…tega banget dia k sobat lamanya cuma krn ga mau k rmh wanda pas ultah sobatnya pdhal apa salahnya sih dia sms ato telp keq kalo ga bisa dateng lagian dia dah punya cowo sdg klo ktemu cowonya ampe rangkul2an pas turun dr kereta, trus ngebiarin cowonya nunggu d bandara brarti tu cw doyan selingkuh, msh punya cowo nulis surat cinta k cowo laen….beeeuu …..klo pandangan gw tu cw murahan…sorry yeee….gmn angga dah pacaran ama bosnya msh lirak lirik ama keenan…ampuuun dah, gw klo punya temen kya dia dah gw tajong jauh jauh….hahahhaha πŸ˜€
    endingnya gw kudu ngluarin nasehat k anak gw “kudu setia kalo punya cowo jgn kya cw aneh ya d film td”….sorry ni pendapat gw yeeee….klo ada yg beda pendapat yaaaaaaaaa mangga atuuuuh sah sah ajah πŸ˜›

  23. Andi
    February 14, 2013

    Halo Teppy, i’m silent reader…gak konsen kerja deh baca Movie Review Suka-Suka mu…SUKAK! thx ya…
    kembali ke Perahu Kertas…gw baru nonton DVD-nya, langsung merasa nggak pas di 15menit pertama dan langsung meninggalkan TKP pas adegan kemping. cuma Remi yg membuatku bertahan sampai selama itu…gorgeous yaaa…
    Terus terang gw tertekan, bukunya bagus kok gw gagal suka ya…pas nemu review ini, aku bahagia….banyak temennyaaaa…

    • Teppy
      February 18, 2013

      hahahaha… toss duluuu! πŸ˜€ gue juga kecewa berat sama filmnya, tapi beneran bertahan karena akting bagusnya si Reza Rahadian! πŸ˜€

  24. SasanyChan
    October 19, 2013

    wah reviewnya udah lama tapi ga papa yaa baru komen hari gini karena gw juga baru niat nonton kemaren.
    aku bahkan lebih suka reviewnya mba teppy ketimbang review perahu kerta di blog or webite khusus review film dengan bahasa dan cara review yg rumit tapi menurut aku masih terlalu baik dan ga tegaan.
    aku kesel ama film ini karena membunuh ide brilian di novel perahu kertas. aku cinta indonesia tapi kepikiran klo PK bakalan lebih bagus klo dibikin drama korea. biasanya mereka jago bikin film drama tentang cinta yang yang tak terungkap dan terpendam di dasar hati (halah), ga tau kenapa…
    aku kurang suka peran kugy. menurut aku klo mau freak, freak aja sekalian. jadi kugy adalah gadis mungil, ceria, nyentrik, unik dan freak. tapi pas akting, gesture dan body language nya maudy ayunda terlalu cool, asik dan normal bwt jadi karakter kayak gitu.
    dan keenan, aduuuuuuhhhhh… ga setuju bgt. ga ada kharismanya. masa aku jadi lebih setuju si kugy ama si remy, dan si keenan lebih baik ke laut aja. padaha kan dia yang bakal jadi ama pemeran utama. dan berantemnya noni dan kugy, bikin aku jadi “apaan dah lu?”
    pokoke, gitu lah ga dapet feel nya.. hoho

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on August 28, 2012 by in Film, Movie Review Suka-Suka, Review and tagged , .

Archives

Blog Stats

  • 2,387,198 hits

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 7,292 other followers

Follow Teppy and Her Other Sides on WordPress.com

Follow me on Twitter

Instagram

Pertolongan pertama pada banyaknya deadline πŸ™ƒπŸ™ƒπŸ™ƒ #teppyscoffeeshoplist #coffeetime #coffeeshop Sisters through thick and thin. Literally, and figuratively 🀣 #since2004 Here's wishing you a good #Saturday :)
Great (and cute) #coffee by the way, @thewestinjakarta ❀

#teppyscoffeeshoplist #coffeetime #coffeecup From the 52nd. #jakarta #westin current alternate universe. #bali #travel missing the cliff, the sea, the beers, and the company. #bali #balian
%d bloggers like this: